Selasa, 08 Juni 2010

Puring Diana 280 Juta



Anda pecinta tanaman hias? datanglah ke Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan Jakarta yang berlangsung 8 s/d 23 November 2008. Anda akan tercengang dibuatnya. Karena, selain ada 130 lebih stand peserta pameran yang menyuguhkan berbagai tanaman hias unggulan dan berbagai sarana produk dan aksesoris tanaman, TRUBUS sebagai pihak panitia juga secara ekslusif menyediakan stand khusus yang berisi hampir sekitar 100 tanaman senilai Rp. 2milyar dari berbagai jenis seperti Zamia, Kaktus, Philodendron, Sikas, Enchepalartos, Nephentes, Euphorbia , Pachypodium, Tillandsia, Ficus, Adenium, Palem, Alcantrea, Polypodium, Vriesea, Yucca, Beauecarnea, Anthurium, Puring, Sansevieria dan Aglaonema. Harga tanaman berkisar mulai Rp. 10jt seperti Adenium Obesum hingga Rp. 280jt untuk Puring Diana dan Rp. 300jt untuk Aglaonema Bidadari!

Dari : kebonkembang.com

Kamis, 03 Juni 2010

Tips Menyemai Biji Puring Ala Darsono


Dalam menyemai biji-biji puring sebaiknya pilih yang betul-betul tua. Hal itu dapat diketahui dengan pecahnya kulit buah. Kalau buah muda kita paksa semai ditakutkan akan busuk karena masih belum cukup tua untuk bisa pecah kulit. Sebelumnya kita persiapkan terlebih dahulu tempat dan media semai. Tempat bisa menggunakan pot plastik atau stereoform. Sedangkan media tanamnya memakai campuran cocopet dengan pakis dengan perbandingan 1 :2 . Setelah semuanya siap semai biji-biji puring terebut dengan benamkan sekitar 1 cm dari permukaan media tanam. Hal ini dilakukan agar begitu biji keluar cambah tidak sampai merusak pada ujung-ujung. Dalam arti lebih memudahkan keluarnya kecambah dari kulit buah.
Setelah semua biji disemai kemudian siram dengan air secukupnya sampai media tanam basah. Namun dalam proses penyemaian tersebut kelembaban arus tetap terjaga. Waktu yang dibutuhkan dari semai sampai keluar cambah kurang lebih 10 hari. Setelah pecah dari kulit buah atau keluar kecambah untuk mempercepat pertumbuhannya dibantu dengan memberikan B1. Setelah umur hasil semai mencapai 3 bulan baru bisa dipindah ke pot yang baru. Dan keunikan dari puring adalah hasil dari kawin silang tersebut akan menciptkan karakter yang berbeda-beda meski dalam satu tangkai buah. Nah sekarang tinggal anda sudah siap semaikan puring di rumah…? Semat menyemai…!! Doy

Dari : duniapot.com

Gudang Croton di Negeri Obama




Harry Harryanto, kolektor puring di Bogor, Jawa Barat, diam seribu bahasa. Matanya terbelalak menatap jutaan puring terhampar di greenhouse Costa Farms di Miami, Florida, Amerika Serikat. Tinggi tanaman dan corak daunnya seragam. Dari rumah kaca seluas 8 kali lapangan sepakbola itu diproduksi 1-juta pot per tahun. “Ini baru kebun puring komersial,” kata kolektor yang mengoleksi 30.000 puring di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, itu.

Sebelumnya Harry sempat kecewa. Kebun puring yang dijanjikan Mike Rimland, director Costa Farms, sejak 1,5 bulan silam tak kunjung diperlihatkan. Mike sengaja membuat ayah 2 anak itu penasaran. Ia hanya mengajak Harry ke lokasi aglaonema, hibiscus, dan poinsettia. Begitu melihat raut muka Harry tak puas, Mike pun baru mengantarnya ke lokasi puring.

Rasa kecewa Harry terbayar lunas ketika melihat hamparan puring setinggi 50 cm di greenhouse seluas 6,5 ha. “Jenis yang dikembangkan hanya 4, tapi produksinya luar biasa,” ujar presiden komisaris Group 73 itu. Sebut saja gold dust, banana, mammy, dan petra. Yang disebut pertama berdaun kecil dengan paduan warna hijau tua mengkilap dan bintik-bintik kuning terang. Bintik kuning pada tanaman muda sangat tergantung cahaya. Jika cahaya kurang, bintik kuning pudar sehingga warnanya tak menarik.

Banana lain lagi. Ukuran daun lebih besar ketimbang gold dust. Corak pun lebih berwarna. Tulang dan jari-jari daun kuning dengan bagian bawah daun tua ungu. Mammy juga unik. Daunnya panjang berbentuk spiral. Paduan hijau, jingga, merah, dan ungu membuat penampilan anggota famili Euphorbiaceae itu atraktif. Yang terakhir, petra, paling terkenal. Coraknya mirip banana, tapi daun lebih besar dan lebar.

Kompak

Costa memperoleh ke-4 puring itu dari sebuah nurseri di Amerika Tengah 25 tahun silam. “Mereka dipilih karena sosok tanaman kompak dan warnanya menarik,” kata Mike. Mereka juga mudah diperbanyak dan tetap prima saat dikirim ke pasar hingga 7 hari. Namun, bukan berarti varian lain tak mungkin dibudidayakan. “Buktinya ketika diperlihatkan foto puring koleksi saya, Mike tertarik dan berencana ke Indonesia,” ujar Harry.

Menurut Mike 4 jenis puring itu perawatannya mudah. “Cukup diberi pupuk lambat urai, tanaman tumbuh subur,” ujar pria yang juga pemilik Rimland’s Nursery itu. Itu karena pupuk lambat urai yang diberikan melepaskan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tanaman secara seragam. Wajar semua puring yang Harry lihat memiliki kualitas dan pertumbuhan sama.

Pada kunjungan itu Harry juga diperkenalkan dengan Kate Santos, head of research and development Costa Farms, yang bertanggung jawab terhadap penelitian dan pengembangan teknologi budidaya dan produk tanaman hias. Pada kesempatan itu Harry memperkenalkan teknologi pemupukan bersama gelombang suara, Sonic Bloom. Kate yang sangat terbuka dan tertarik akan hal baru pun langsung merespon untuk mengujicoba dan menerapkannya di Costa Farms. Atas undangan Harry, Kate berencana mengunjungi Indonesia tahun ini. Tujuannya, melihat varietas croton dan tanaman hias lain asal tanahair untuk dikembangkan di Amerika.

1 juta pot

Sejatinya puring merupakan satu dari 1.150 varian tanaman hias daun yang dihasilkan nurseri di barat daya Miami, Florida, itu. “Costa menghasilkan 1-juta pot puring per tahun dengan perbanyakan melalui setek. Setiap varian jumlahnya 250.000 pot/tahun,” kata Mike. Codiaeum variegatum itu lalu didistribusikan ke seluruh pasar di bagian Amerika Utara sebagai tanaman pekarangan di musim panas.

Wajar bila Harry kagum dengan produksi puring di salah satu nurseri di negeri Obama itu. Tanaman yang masih dilihat sebelah mata oleh hobiis di tanahair itu malah dikembangkan besar-besaran. “Kenapa di Indonesia tidak mengembangkan croton dengan baik? Padahal, kita punya varian yang bagus-bagus. Negara lain saja bisa berkembang dengan varian sedikit,” ujar distributor tunggal Sonic Bloom itu.

Menurut Mike, Costa salah satu nurseri tanaman hias terbesar di Amerika Serikat dengan jumlah pegawai 2.200 orang. Perusahaan yang didirikan Jose Costa pada 1961 itu memproduksi 120-juta tanaman hias daun dan bedding plant atau tanaman menghampar per tahun di lahan seluas 809,37 ha. Produksi jutaan pot leluasa dilakukan karena penggunaan lahan efektif. Sekitar 80% dari total lahan di Miami Florida digunakan untuk produksi.

49 tahun silam

Toh, kesuksesan itu tak datang begitu saja. Perjalanan Costa dimulai sejak 49 tahun silam ketika keluarga Costa berimigrasi ke Amerika Serikat. Mulanya Costa membuka kebun seluas beberapa hektar untuk tanaman hias daun, seperti anthurium, bromeliads, dan calathea. Selang 36 tahun kemudian, Costa melebarkan sayap ke komoditas lain. Tak hanya tanaman hias daun, tapi juga mulai mengusahakan bedding plant, seperti caladium, dahlia, daylili, geranium, gerbera, dan impatient. Kini produksi bedding plant meluas hingga ke Karolina Utara, Pennsylvania, dan nurseri di luar negeri seperti Republik Dominik dan Kosta Rika.

Keraksasaan Costa semakin bertambah setelah bergabung dengan kompetitornya Mike Costa Foliage 5 tahun silam. Perusahaan yang kini dikelola oleh generasi ke-3 itu mengirim produk tanaman hias daunnya ke seluruh wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Karibia. Di negara Paman Sam itu Costa memasarkan produknya ke Home Depot, Lowe’s, Wal-Mart dan sejumlah pedagang besar lainnya dalam rantai pemasaran. Sementara kebun di Republik Dominik dan Kosta Rika, khusus pembibitan untuk dikirim ke Amerika Serikat, lalu dibesarkan dan dijual.

Pengangkutan tanaman ke konsumen menggunakan truk berpendingin milik sendiri. Maklum, selain memproduksi tanaman, Costa juga mengelola transportasi yang beroperasi di Florida bagian selatan, Karolina Utara, Republik Dominik, serta Kosta Rika.

Menurut Mike penjualan terbesar terjadi pada awal Mei yang bertepatan dengan awal musim semi. Saat itu banyak penduduk negeri Paman Sam mulai bercocok tanam di pekarangan dan kebun. Pelayanan terbaik pun selalu diberikan oleh Costa kepada setiap pelanggannya. Salah satunya yang Harry rasakan ketika berkunjung ke greenhouse Costa Farms akhir 2009 lalu untuk melihat croton. (Rosy Nur Apriyanti)

Dari : Trubus-online.co.id

Puring Naik Pangkat


Inilah transaksi paling fenomenal di jagad tanaman hias 2008. Puring bangalore setinggi 1 m senilai Rp18-juta diboyong kolektor di Jakarta Selatan. Daun lebar, mulus, dan kompak menjadi daya tarik puring bercabang 12 itu. Di Sawangan, Depok, croton cobra merah berharga Rp6-juta menjadi koleksi H Ali Sudin. Puring Codiaeum variegatum memang tengah ‘naik kasta.’ Dari tanaman pagar ia bersalin rupa menjadi tanaman koleksi.

Puring memang disebut-sebut sebagai maskot baru tanaman hias di tahun tikus. ‘Sejak 2 bulan terakhir harganya terdongkrak naik 2-3 kali lipat,’ kata Handry Chuhairy, pemilik Hans Garden di Alam Sutera, Tangerang. Menurut Handry sebetulnya puring pernah menjadi incaran hobiis setahun silam. Namun, ketika itu pesona puring tergilas anthurium yang memang tengah naik daun. Apalagi puring impor asal Thailand yang didatangkan secara besar-besaran banyak stres dan rusak.

Menurut H. Ali Sudin banyak keung-gulan puring yang tak ditemui pada tanaman hias daun lain. ‘Variasi warna beragam, dalam1 tanaman bisa terdapat 4-5 warna,’ kata pegawai di sebuah kantor pemerintahan di DKI Jakarta itu. Sebut saja oscar yang berwarna hijau, kuning, merah, merah muda, dan merah kehitaman. Beragam warna pada 1 tanaman itu bahkan sulit ditemui pada aglaonema, tanaman hias daun yang dikenal kaya warna. Bentuk daun puring juga beragam mulai dari bulat hingga bentuk trisula dan keriting.

Beragam corak, warna, dan bentuk pu-ring itulah yang menjadi daya tarik kolektor. Apalagi belakangan croton-sebutan puring di mancanegara-banyak didatangkan dari India dan Thailand. ‘Itu memperkaya jenis yang beredar,’ kata Ferdian AS SSi, pemilik Suhika Flora Indonesia di Sawangan, Depok. Dari India croton bangalore menjadi maskot. Daun besar-selebar telapak tangan orang dewasa-dan bersosok kompak. Di Jakarta Selatan, sepot bangalore berdaun 10 dibandrol Rp4-juta alias Rp400.000 per daun. Pendatang dari India yang tak kalah cantik ialah leopard dan red spider. Dari Thailand, narapirom dan bangkruei (baca: Daun Berpilin Bernama Croton, Trubus Juli 2007, hal 44-45).

India

Hingga saat ini tak ada yang tahu pasti dari mana croton berasal. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia II menyebut puring berasal dari Maluku. Namun, ia juga menyebut puring banyak ditemukan di Pulau Jawa dengan beragam nama. Di tanah Sunda disebut katomas, tomas, dan puring. Di Jawa, puring, dan di Madura, karoton atau karotong. Anggota keluarga Euphorbiaceae itu juga ditemukan di Kalimantan (uhung dan dolok), Sulawesi (dendiki dan balenga semangga), dan Papua (abam atau kama).

Di wilayah nusantara itu puring tak hanya dikenal sebagai tanaman pagar dan pekuburan. Pucuk daun dipakai sebagai lalapan dan obat tradisional. Pada 1660 Georgius Everhardus Rumphius, botanis asal Jerman melaporkan daun puring dapat dimakan sebagai sayur. Daun muda berasa agak kemanis-manisan. K Heyne menyebutkan orang melayu menggunakan gerusan akar puring untuk mengobati penyakit kelamin seperti rajasinga atau sipilis. Sementara akar dan kulit batang dipakai sebagai zat penyamak kulit.

Dari sejumlah literatur terbaru ditemukan gudang puring tak hanya di Indonesia. Tercatat 2 wilayah lain yang dikenal sebagai gudang keragaman puring: Asia Selatan dan Kepulauan Pasifik bagian timur. Artinya, India-yang termasuk Asia

Selatan-memang habitat asli croton. Menu-rut Ir Slamet Budiarto, dari PT Godong Ijo Asri, Depok, tanah India kaya puring berdaun lebar. Sebut saja anaconda dan ben jonson. Jenis daun kecil asal India mirip dengan puring lokal seperti anting. Sementara dari Thailand didominasi puring berpilin seperti bang kruei dan berpunuk seperti kura.

Dilahirkan

Menurut Handry datangnya puring dari India dan Thailand ke Indonesia mendongkrak pamor puring lokal. ‘Dulu benar-benar tak dilirik. Sekarang dipotkan oleh pekebun dan dilahirkan dengan menyematkan nama. Mereka turut menjadi buruan kolektor,’ kata mantan atlit renang itu. Empat puring lokal tak bernama yang bersalin rupa menjadi mutiara, miss indonesia, miss universe, dan rembulan.

Di Pakulonan dan Lengkong, Serpong, Tangerang, banyak pekebun melakukan hal itu. Sebut saja Suharta dan Tirtayasa. Keduanya bergerilya mengumpulkan puring lokal dari pelosok, memperbanyak, lalu mengepotkannya. Di tangan mereka puring yang tadinya diabaikan menjadi tanaman koleksi bernilai jutaan rupiah.

Mutiara misalnya, sepot setinggi 30-40 cm itu dibandrol Rp2-juta. Sedangkan miss indonesia dan miss universe dipatok di atas Rp5-juta. ‘Kita berburu ke rumah-rumah penduduk, dan menemukan tipe ini yang tergolong langka,’ kata Tirtayasa. Fenomena itu mengingatkan pada aglaonema no name yang cantik tapi tak dilirik. Ia baru menjadi kebanggaan kolektor setelah disematkan nama

PURING APEL YANG LOKAL DAN IMPORT SAMA CANTIKNYA



October 12, 2009

Dengan segala keunikannya, tanaman Puring kini sudah mulai merangkak kembali dan pantas dijadikan idola. Tak terkecuali Puring Apel, bentuk daun yang menyerupai buah apel ini memiliki bentuk eksotis dipadu dengan variasi warna yang serasi hingga mampu menyihir penggemarnya. Ada 2 Puring Apel yang saat ini tersedia di pasaran tanaman hias, yaitu lokal dan Thailand. Meski namanya sama, tapi tampilannya berbeda.

“Sebenarnya, puring Apel lokal tidak kalah dengan ke-eksotikan puring apel Thailand. Pada prinsipnya puring Apel dari Thailand memiliki kemenangan pertama pada kata “Import”,” ungkap Subur Prasetyo, 31, pedagang bunga dari Kota Blitar, Jawa Timur. Dan sudah menjadi sebuah tradisi, segala sesuatu yang import akan dikatakan lebih bagus. Kenyataannya sebagian besar memang begitu, termasuk juga yang menyangkut tanaman.
Lebih lanjut pria tambun ini menjelaskan bahwa pada sisi warna kedua Puring ini memiliki perbedaan. Puring Apel lokal warnanya cerah, sedangkan Puring Apel Thailand warnanya mengkilat. Bila terkena sinar matahari, maka warna dari puring Thailand ini akan muncul lebih sempurna.
Selain pada warna, daun dari masing-masing varian beda Negara ini juga memiliki perbedaan. Puring Apel Thailand memiliki jenis daun yang tebal, sedangkan puring apel lokal daunnya lebih tipis. Sekilas memang nampak sama, tapi ketika diraba akan terasa perbedaannya.
Dengan perbedaan ketebalan yang mendasar itu, daun pada puring juga memiliki karakteristik yang berbeda pula. Puring Apel lokal daunnya kasar. Sedangkan puring apel Thailand bila diraba daunnya seperti plastik, halus dan agak licin. “Makanya warna Puring ini nampak mengkilap,” ungkapnya.
Mengenai harga, jelas memiliki perbedaan. “Perbandingan yang mencolok apabila kita berbicara soal harga. Karena puring import juga membutuhkan biaya pada sisi transportasi sedangkan lokal begitu mudahnya di dapat. Untuk perbandingan harga yang ada 1:10,” jelasnya.
Bila di pasaran lokal, Puring Apel lokal seharga Rp 15.000 – Rp 20.000, sementara Puring Apel Thailand minimal seharga Rp 100 ribu. Dari perbedaan yang ada tersebut, juga mempengaruhi penjualan. Terutama pada varian warna. “Untuk kedua jenis Puring itu, varian warna yang sering di buru kolektor adalah kolaborasi warna merah,” ungkapnya.
Sedangkan puring apel lokal selain kolaborasi warna merah, di pasaran yang menunjukkan geliatnya adalah Puring Apel warna kuning telur. Kecenderungan tren tanaman Puring Apel baik lokal maupun import masih banyak digilai para kolektor. Tapi bagi kolektor tanaman yang memiliki citarasa seni, dedaunan puring ini bisa menjadi alternatif. Harganya juga masih relatif terjangkau dibanding jenis tanaman koleksi lain tapi keindahan daun puring juga tak kalah bila dipajang maupun dipamerkan. ton

Dari : duniapot.com

Puring Roro Wilis Jadi Primadona


Kontes Puring kali pertama yang digelar Plaza Araya mendapat tanggapan baik khususnya dari kalangan kolektor Malang. Terbukti, tanaman Puring yang dibawa sebagian bahkan belum pernah diperlihatkan pada publik. Deretan Puring ini dipamerkan di atas panggung di halaman depan Plaza Araya. Selama penjurian kemarin, pengunjung plaza selalu berhenti untuk sekadar mengamati jenis Puring yang susunan daunnya tampak proporsional.

Penyelenggara Kontes Puring, Nanang Mukholis Anwar mengatakan, sebelumnya juga digelar kontes serupa di Tumpang. Namun peserta kontes di Plaza Araya, bukanlah orang yang sama dengan kontes serupa tersebut. “Banyak peserta baru yang memang kolektor. Sebelumnya mereka bahkan tidak keluar untuk melakukan pameran,” kata Nanang yang ditemui Malang Post disela penjurian.

Total peserta, lanjutnya, memang tidak sebanyak yang diprediksikan sebelumnya. Menurutnya, banyak peserta yang menarik diri dari kontes sehingga menyisakan 25 peserta. “Namun dari jumlah ini, 80 persen mengikutikan Puring jenis impor yang cukup langka. Jadi bukan sekadar Puring yang kerap menghias kuburan dan Puring ini juga tidak mudah ditemukan di pasaran,” katanya.

Nama Puringnya yang mengikuti kontes kecantikan tanaman tersebut cukup unik. Di antaranya Green Apple, Santa Helena, Oscar Ruby, Oscar Madu, Banglor, Tanduk, Sahara, Sakura, Lipstik dan masih banyak lagi. Meski Puring berkualitas kebanyakan merupakan Puring jenis impor, namun bukan berarti Puring lokal kalah pamor. Misalnya saja Puring Roro Wilis yang juga menjadi primadona di kalangan penggemar Puring karena kelangkaannya.

GM Plaza Araya, Priali M Basa yang juga menjadi juri dalam Kontes Puring tersebut mengatakan, harga Puring yang dipamerkan tidak menjadi pertimbangan utama. Pasalnya, kegiatan hobi seperti ini tidak memiliki batasan harga. “Namanya juga hobi, berapapun akan dibeli. Puring Lidah Api terakhir dijual dengan harga Rp 15 juta dan tetap ada pembelinya,” terang dia.

Demam Puring yang sudah berlangsung delapan bulan tersebut hingga kini masih diminati pecinta tanaman. Pasalnya, Puring merupakan tanaman yang akrab dengan keseharian karena biasa ditemukan di taman, dan juga pernah populer sebagai tanaman kuburan. Hanya saja, untuk jenis yang berharga tinggi tentunya merupakan Puring yang langka.

Nanang sendiri memprediksi, booming Puring akan cukup lama bertahan. Pasalnya, berbeda dengan Anthurium, perbanyakan tanaman Puring terbilang lebih sulit meski perawatannya paling mudah di antara tanaman hias lainnya. Dibiarkan pun, tanaman ini tetap tumbuh dengan kondisi luar ruangan. “Justru jika terlalu dimanja, tanaman ini akan mati,” pungkasnya. (fio/lim) (Fiona Mediony/malangpost)

Dari : malangraya.web.id

Keindahan Walet Merah Kristata


May 10, 2009

Dunia tanaman hias memang aneh, dimana bila memiliki kelainan justru meningkatkan nilai jualnya. Kristata merupakan salah satu kelainan yang dimiliki oleh tanaman, hampir semua jenis tanaman hias dari ribuan jumlahnya kemungkinan salah satunya memiliki kelainan baik daunnya atau yang sering disebut variegata ataupun kelainan bentuk yang ngetrend disebut kristata.
Bagi kolektor tanaman hias, variegata ataupun kristata selalu menjadi bahan buruan, tak peduli dimanapun tempatnya, bila hati sudah berhasrat kemanapun pasti dikejar juga. Karena jumlahnya tidak banyak secara otomatis harga jualnya cukup mahal. Betapa beruntungnya Anda jika memiliki tanaman hias berkarakter unik (kristata,red).
Puring kristata, rasanya masih asing terdengar di telinga, bahkan baru kali ini Go Green menemuinya. Inilah sebuah bukti bahwasannya tanaman kristata dimiliki oleh hampir semua jenis tanaman hias. Tapi jangan bilang jumlahnya banyak, pasalnya dari seribu tanaman, mungkin hanya satu yang memiliki karakter tersebut.
Dari keunikan dan minimnya jumlah, pada akhirnya memposisikan kristata menjadi tanaman eksklusif. Bila sudah demikian tak ada bedanya mau puring lokal ataupun import, harganya sama tingginya. Walet merah kristata milik Amin Thohari, meski termasuk puring lokal, namun harganya dapat terangkat berkat kelainannya.
Walet merah kristata tanpa sengaja didapatkan oleh Thohari beberapa bulan yang lalu. Saat ini puring kristata tersebut menjadi kebanggaannya. Sebagai pelaku bisnis tanaman hias, tak jarang ia mengikuti bursa. Sebagai salah satu andalannya walet merah kristata selalu dibawa saat mengikuti bursa tanaman hias.
Awalnya tak kelihatan puring tersebut memiliki kelainan, karena kristata pada batangnya tertutup oleh rimbun daun puring. Tapi setelah didekati dan diperhatikan ujung batang membentuk sebuah kipas yang merupakan ciri tanaman kristata. Meski tak bisa dibilang spektakuler, tapi tetap saja puring tersebut memiliki daya magnet luar biasa.
Usia Walet merah kristata termasuk masih muda, hal ini dapat dilihat dari besar batang bawah tanaman. Diameter batang bawah tak lebih dari 5 cm, tinggi tanaman kurang lebih hanya sekitar 80-90 cm. Untuk mengetahui bahwa puring tersebut kristata, anda harus memperhatikan dari dekat, seperti dikatakan diatas, bila dilihat dari jauh kristata tak tampak akibat rimbunnya daun puring.
Sebenarnya membelahnya batang tanaman hampir dimulai dari pangkalnya, namun terlihat membuka pada bagian atas batang. Batang tanaman membelah menjadi dua dan pada batang membelah tersebut ditumbuhi batang baru yang membentuk seperti kipas dengan kulit batang warna hijau.
Dinamakan walet merah karena daun puring tersebut lebih didominasi oleh warna merah darah, semakin serasi karena berkombinasi dengan warna hitam, hijau dan kuning. Struktur daun puring kecil dan memanjang, mirip sebuah pita rambut. Meski termasuk puring lokal, keindahannya cukup memuaskan mata, apalagi didukung dengan kelainan yang dimilikinya. Makin menambah kesempurnaan puring lokal tersebut.her

Dari : duniapot.com

Puring India dan Puring Lokal


Sejarah Puring

Puring pertama kali diidentifikasi di wilayah laut Seram, Maluku, pada 1600 dengan nama codiaeum mollucanum. Di Eropa, puring mulai dikenal pada 1804 ketika perahu East Indies berlabuh di London, Inggris. Kecantikan puring membuat kaum bangsawan Inggris menggandrunginya. Lantaran tanaman ini masih langka dan hanya dimiliki kaum bangsawan, maka dinamakan King of Plant.

Bak lukisan, tanaman puring memiliki warna-warni yang indah, cerah dan cantik. Tanaman dengan nama latin Codiaeum -- sebuah nama yang diberikan oleh seorang botaniawan asal belanda GE Rumphius pada 1660 -- ini merupakan tanaman asli tropis. Namun dalam perkembangannya, tanaman ini lebih banyak dikembangkan di daratan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Sedangkan di kampung halamannya, yakni Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Srilangka dan India, tanaman ini masih dianggap tanaman liar.

Setelah berjaya di Eropa dan Amerika pada abad 18, terutama setelah kelahiran puring varietas-varietas baru hasil persilangan, mulailah kaum petani tanaman hias Asia melakukan pembudidayaan. Tidak jelas sejak tahun berapa, namun dalam perkembangannya kini banyak bermunculan varietas baru yang cantik dan unik, seperti puring apel merah dan kura-kura asal Thailand, dust ruby asal Filipina, puring tokek asal Malaysia, dan puring oscar, puring concord brazil asal Indonesia.

Asal-usul puring dan habitatnya
Puring dikenal dengan nama ilmiah Codiaeum alias Crozophyla, Junghuhnia, Phyllaurea, dan Synaspisma. Oleh para pakarnya, ia diklasifikasikan seagai berikut.

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Subfamili : Crotonoideae
Rumpun : Codiaeae
Genus : Codiaeum A.Juss
Spesies : Codiaeum affine
Codiaeum hirsutum
Codiaeum megalanthum
Codiaeum tenerifolium
Codiaeum veriegatum

Puring India

Setelah puring Thailand, kini giliran puring dari negerinya Sharukh Khan, India, berjaya. Spesialis puring berdaun lebar dan tebal dengan warna-warni yang cerah ini banyak diburu kolektor. Harganya pun jutaan rupiah.

Heri Saepudin, pemilik Gonku Landscape and Stock Plant di Sawangan Depok, Jawa Barat, mengatakan, saat ini puring yang tengah menjadi leader dan banyak diburu para kolektor adalah puring asal India atau lebih dikenal puring tipe flat, berdaun lebar dan tebal dengan warna terang dan cerah. Salah satunya puring fantastic alias temu ireng atau dikenal puring banglor. Puring banglor memiliki daun yang lebar, tebal dan memanjang, dengan struktur tulang yang besar dan kokoh. Keunikan lain, warnanya yang cerah, merah tua dengan garis tengah berwarna merah muda. Untuk daun yang masih muda berwarna hijau tua dengan garis tengah berwarna kuning. Jika telah tua, warnanya akan semakin menyala dan cantik.

“Bentuknya unik, warnanya dan juga masih langka, belum banyak yang membudidayakan membuat puring banglor ini mahal, dan disenangi para kolektor,” ungkap Heri.

Hal senada juga dikatakan Amdanih yang juga pembudidaya puring di Sawangan. Menurut Amdanih, banglor dengan daunnya lebar membuat tanaman ini menjadi buruan kolektor. Selain itu, puring ini juga memiliki warna yang cantik. Maka tak heran jika harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Untuk ukuran kecil – yang tinggi batangnya 4-5 cm, belum termasuk daunnya -- para kolektor harus merogoh koceknya hingga Rp600 ribu per pot.

Puring asal India lainnya yang kini digandrungi adalah varietas yellow queen. Puring jenis ini terdiri dari dua batang besar dengan warna daun dominan hijau dihiasi kuning keemasan di tengah daun. Selain itu ada juga puring patricia, yaitu puring berdaun kuning dan hijau dengan struktur tulang yang tebal sehingga guratannya terlihat. Seperti banglor, jenis ini juga memiliki daun yang lebar-lebar.

Kemudian ada puring legacy, berwarna merah tua dengan struktur daun yang kokoh, dan puring Indiana yang juga merupakan puring koleksi. Jenis ini terlihat elegan dan fantastik dengan daun yang kurus memanjang berwarna merah tua dengan sedikit titik pada daunnya.

Puring Lokal Naik daun
Selain puring-puring India, kata Amdanih, ada beberapa jenis puring lokal yang masih mendapat tempat di hati masyarakat. Salah satunya puring oscar dan concord brazil. Harga yang ditawarkan untuk puring lokal ini tidak setinggi puring – puring asal India. Harganya berada dalam kisaran Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per pohon ukuran kecil.

Puring oscar terdiri dari tiga jenis, yakni: oscar madu, oscar batik, dan oscar sukabumi. Bapak dua anak ini mengatakan, puring oscar memiliki permukaan daun yang melebar dan menggelembung di tengah dengan ujung daun yang lancip. Puring ini memiliki warna kuning kemerahan dan hijau. Khusus oscar batik, pada daunnya terdapat bintik-bintik, mirip batik. Dari ketiga jenis oscar ini, yang paling banyak diminati kolektor dan konsumen adalah oscar batik.

Dibanding tanaman lainnya pembudidayaan puring oscar membutuhkan waktu relatif lebih lama. Sama dengan puring kura-kura asal Thailand yang memakan waktu 1,5 - 2 bulan hingga tumbuh akarnya dan siap tanam.

“Oscar memang lambat budidayanya, baik distek maupun dicangkok. Mungkin karena sulit dan lambat itulah yang membuat jenis ini langka dan banyak dicari,” ucap Amdanih.

Jenis lokal lainnya yang juga naik daun adalah jenis concord brazil. Jenis ini memiliki 3 varian, yakni concord merah, concord kuning dan concord brazil. Dinamakan concord brazil karena warna daunnya menyerupai seragam tim sepakbola Brazil, merah dan kuning.

Menghias Taman dengan Puring


Tanaman Puring bisa menjadi salah satu alternatif tanaman untuk mempercanti taman Anda. Warna-warninya yang cantik bisa menjadi point of interest dari taman Anda. Ingin menanam Puring? Anda perlu tahu bagaimana cara perawatannya.

Dulu, Anda mungkin seringkali menemukan tanaman Puring ini di area makam. Tetapi sekarang, Anda akan menemui tanaman yang juga sering disebut Croton ini, pada taman-taman rumah. Bahkan tanaman hias ini sekarang sedang menjadi tren, lho.

Tanaman Puring memiliki warna daun yang bervariasi antara daun muda dan daun yang sudah tua. Keberagaman warna inilah yang menjadikan Puring sangat potensial menjadi tanaman hias yang banyak dicari orang. Puring bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian lebih dari tiga meter, dengan diameter batang lebih dari 10cm. Selain itu, umur tumbuhnya pun relatif panjang. Puring bisa tumbuh hingga lebih dari 20 tahun.

Tajuknya yang rimbun bisa berfungsi sebagai peneduh. Anda juga bisa menanamnya di sepanjang pagar, sehingga Puring pun bisa menjadi elemen dekoratif pada pagar. Selain membuat pagar semakin cantik, juga bisa membuat tampilannya lebih alami.

Salah satu faktor penting dalam perawatan Puring adalah sinar matahari. Oleh karena itu, Anda harus menempatkan tanaman Puring pada area yang mendapatkan banyak sinar matahari. Kecuali jika Puring sedang dalam proses perbanyakan, Anda harus menempatkannya pada tempat teduh.

Cahaya matahari menjadikan pigmen warna pada daun-daun Puring (merah, kuning, dan lain-lain) tampak lebih cerah. Puring yang mendapatkan sedikit sinar matahari, cenderung menampakkan warna hijau saja. Sehingga tampilannya menjadi kurang cantik. Namun, meletakkan tanaman ini pada tempat teduh (naungan) akan membuat daunnya membesar maksimal. Oleh karena itu, Anda perlu menyiasati penggunaan naungan, agar tampilan Puring menjadi sempurna.

Media tanam terbaik untuk Puring adalah tanah liat. Tetapi Anda juga bisa menanamnya di tanah biasa. Caranya, buatlah lubang tanam berukuran 30cmx30cm, dengan kedalaman minimal 30cm. Berikutnya, lubang tanam tersebut diberi pupuk kandang yang sudah dicampur dengan tanah. Tanaman Puring yang ditanam, sebaiknya adalah tanaman yang sudah memiliki akar sempurna. Minimal dua bulan sejak penyetekan atau cangkok.

Penyiraman bisa Anda lakukan setiap pagi hari, minimal pada satu bulan pertama. Apalagi pada musim kemarau. Untuk pertumbuhannya, Puring membutuhkan pupuk yang seimbang. Pemupukan bisa dilakukan dengan menggunakan pupuk cair, setiap satu minggu sekali. Jika Anda menggunakan pupuk NPK sebaiknya ditambah dengan pupuk mikro, atau pupuk kandang. Sekarang, Anda pasti lebih siap menghias taman Anda dengan Puring.

Penulis: Anissa
Foto:Rai

Dari : idea online

Pesona Puring


Memang bukan primadonanya tanaman hias di tahun ini, namun puring masih tetap dihargai dan dicari.

Harus diakui, keberadaan puring yang berdaun unik dan warna yang kontras ini dinilai sangat atraktif, dan memberi angin segar bagi tren tanaman hias yang dominan berdaun hijau. Semula hanya puring Golden finger saja yang dikenal. Berdaun hijau muda kombinasi kuning, dengan bentuk daun panjang-panjang seperti jari.

Namun kini ada yang berdaun agak lebar dan disebut Puring tanduk. Sedangkan yang berdaun merah dan amat popular ada Puring bali atau Puring jet. Saat ini, jenis Golden finger sudah saja ada beberapa nama, di antaranya jet kuning, teri, kembang api, yang kesemuanya memiliki motif dan warna yang jika dilihat sekilas hampir sama.

Jenis baru yang popular saat ini kebanyakan merupakan hasil kawin silang, memiliki kombinasi bentuk dan warna. Sebut saja Puring pancawarna, Banana mammie, atau Arwana. Ketiganya merupakan kombinasi daun merah di bagian bawah, hijau dan kuning di bagian pucuknya. Bila suka bentuk yang unik, tengok saja jenis Apel sanfrancisco atau puring kerdil dengan bentuk daun membulat dan warna merah seperti apel.

Tanaman Yang Bandel
Walaupun sudah menjelma jadi varian baru, puring tetap merupakan tanaman ‘bandel' yang tak memerlukan perawatan yang rumit. Puring bisa tumbuh dengan baik di media tanah merah dan cukup ditambahkan sedikit pupuk kandang (kompos).

Bila dilihat dari asal-usulnya yang tumbuh liar, artinya tanaman asli Indonesia ini mampu tumbuh di mana saja, tanpa perawatan khusus. Akan tetapi, menurut Herlina Mutmainah, pemilik Kaliandra Flora, Depok, "Puring juga perlu media tanam khusus bila ditanam dalam pot."

Untuk media pot, tambahkan sekam bakar dengan perbandingan antara tanah merah, sekam bakar, kompos 1 :1 :1. Selain itu, yang harus diperhatikan adalah kebutuhan akan cahaya matahari. Puring harus terkena cukup sinar matahari agar warna daunnya makin cerah. Bila kurang terkena cahaya, daunnya cenderung hanya hijau saja.

Desain Taman
Apabila dilihat dari tajuknya yang rimbun dan bisa mencapai tinggi lebih dari 1 meter, puring sangat cocok dijadikan border. Bisa ditanam sejajar dengan dinding belakang rumah dan berfungsi ‘memperhalus' dinding. Asalkan jangan dibiarkan terlalu tinggi, maksimal setinggi 1,5 meter saja, dan harus segera dipangkas agar tak tampak liar.

Sedangkan jenis berdaun lebar dan tinggi tak lebih dari 50 cm, seperti Puring titik kuning dan Kura merah, dapat dijadikan semak mengelilingi rumah atau di area bawah jendela. Bisa juga dijadikan ‘focal point' berdampingan dengan tanaman yang lebih tinggi seperti palem atau kamboja, sehingga puring tampak kontras dengan batang pohon kamboja dan hijaunya rumput.

Puring berdaun unik akan lebih menarik bila ditanam di pot. Ada baiknya Anda mengoleksi beraneka jenis puring sehingga potscape puring dengan warna dan bentuk daun yang beragam akan tampak colorful, dan dijamin akan membuat tetangga melirik teras rumah Anda.

Nah, soal harga, per pot/ polly bag puring saat ini sangat bervariasi. Untuk jenis lama setinggi 20 cm - 1 m harganya tak lebih dari Rp 30 ribu/ pollybag. Tapi jenis hasil kawin silang setinggi 20 cm bisa mencapai harga Rp 200 ribu/ pot.

Lucy Maulana
Koleksi: Kebun Tata Tanaman Hias & Landscape, Telaga Kahuripan Candraloka, Parung, Bogor (0251-602748).
Foto-foto: Ahmad Fadillah/ NOVA

Juara-juara Kontes Puring Wiladatika Cibubur.


Dewan Juri: Syah Angkasa, Zulfikar, Herry Syaifudin



Juara I Small - Puring Angel Wing
Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor



Juara II Small - Puring Red Indiana Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor



Juara III Small - Puring Anting Merah Owner : Nurdin - Sawangan, Depok

Komunitas Puring Indonesia bekerjasama dengan majalah pertanian Trubus telah menyelenggarakan Kontes Puring yang berlangsung pada tanggal : 08 Maret 2009 di Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur. Dari hampir 40 tanaman berbagai jenis puring, dewan Juri yang terdiri dari Herry Syaifudin (Gonku Nursery), Syah Angkasa (Trubus) dan Zulfikar (Komunitas Puring Indonesia) memutuskan Puring Concord dan Puring Angel Wing, keduanya milik Niki Sae Ciawi masing-masing juara I di kelas Medium (75-100cm) dan kelas Small (50-75cm).

Pemenang selengkapnya sebagai berikut:


Juara I Medium - Puring Concord Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor



Juara II Medium : Puring Concord Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor



Juara III Medium : Puring Concord Kuning Owner : Denok Flora - Sawangan, Depok


Dari : kebonkembang.com

Juara Lomba Puring di Trubus Agro Expo 2009 – Rawa Belong


Juara I Puring : Angel Wing Owner : Marthen, Villa Nusa Indah Permai – Bekasi Total Point : 75,88Total Point : 73,58



Juara II Puring : Africa Owner : Ir. Fachri Fathoni MM, Sumur Pecung – Serang Total Point : 73,58



Juara III Puring : Norma Merah Owner : Sukamto, Tanjung Priok Total Point : 73,28

Event Lomba Puring di Trubus Agro Expo 2009 – Rawa Belong pada tanggal 02 Agustus 2009 sudah berlangsung dengan sukses, berikut rekap hasil lomba :

Kategori Kelas : UMUM

Juara I

Puring : Angel Wing

Owner : Marthen, Villa Nusa Indah Permai – Bekasi

Total Point : 75,88

Juara II

Puring : Africa

Owner : Ir. Fachri Fathoni MM, Sumur Pecung – Serang

Total Point : 73,58

Juara III

Puring : Norma Merah

Owner : Sukamto, Tanjung Priok

Total Point : 73,28

Ucapan terima kasih yg sebesar-besarnya buat puringers atas partisipasi meramaikan dan menyukseskan event lomba puring kali ini.

Dari : aksikomunitas.wordpress.com

Juara-juara Kontes Puring PF2N 2009 Tangerang

Apresiasi yg tinggi buat antusiasme puringers pada event kontes puring di Pekan Flora Flori Nasional 2009, Tangerang City yang berlangsung 23 Juni lalu. Kontes dibagi dalam dua kelas yaitu Kelas 0 s.d 50 cm dan Kelas 50 s.d 100 cm


Juara 1 Kelas 0 - 50 cm : Puring Udang
Owner Rahmat, Parung Jaya – Tangerang


Juara 2 Kelas 0 - 50 cm : Angel Wing Ownner Marthen Bekasi


Juara 3 Kelas 0 - 50 cm : Oscar Owner
Kebon Kembang, Tangerang


Juara 1 Kelas 50 - 100 cm : Puring Ketapang
Owner Sambas. R, Teluk Naga Tangerang


Juara 2 Kelas 50 - 100 cm : Concord Exotica Owner Badru Jaya, Sawangan


Juara 3 Kelas 50 - 100 cm : Puring Apel Washington Owner WH Nursery, Tangerang

Dari : kebonkembang.com

NOTULIS Gathering Komunitas Puring, 13 Desember 2008



NOTULIS

Gathering Komunitas Puring, Gonku Landscape & Stock Plant-Sawangan, 13 Desember 2008

Setelah sempat diundur karena menyesuaikan waktu dengan teman2 yang hadir, akhirnya gathering tahap kedua dilaksanakan tanggal 13 Desember 2008 bertempat di Gonku Nursery, Sawangan. Rencana semula acara dibuka pukul 9 pagi namun karena banyak teman2 yang nyasar, akibatnya mulur sampai jam 11, ooaalahhh…. Akhirnya kumpul jg deh sekitar 20 orang, lumayan..

Pertemuan kali ini berfokus pada pembentukan organisasi Komunitas Puring dan problematika industri puring. Organisasi atau paguyuban ini hendaklah merupakan bentuk wadah komunitas yang jelas dan terarah, bukan asal – asalan hanya mengikuti tren saja. Anggota komunitas puring saat ini ada sekitar 100 orang, terdiri dari anggota pasif dan aktif. Diputuskan untuk pembentukan pengurus berasal dari anggota yang hadir saat gathering ini, untuk pengembangannya ditentukan kemudian. Adapun pengurus yang terbentuk adalah :

Ketua : Heri Syaefudin (Gonku)

Wakil Ketua : Zulfikar

Sekretaris : Novilia

Bendahara : Arry

Humas : Didi, Brilliantoro, Silo, Firdaus, Pashya, Andri

Semoga kepengurusan ini dapat berjalan dengan lancar dan pastinya perlu dukungan dari teman2 semua.

Ada masukan dari Bpk. Heri mengenai segmentasi komunitas puring ini. Karena tanaman puring sendiri terdiri dari berbagai kelas dari kelas harga murah (tanaman proyek) sampai harga selangit (kolektor item). Apakah akan berfokus pada pelestarian plasma nuftah (puring2 asli Indonesia), orientasi bisnis atau hanya sekedar koleksi. Pembahasan mengenai hal ini belum terjawab karena lebih tertuju pada pembentukan pengurus terlebih dahulu.

Image tanaman puring saat ini masih terpuruk karena masih dianggap sebagai tanaman kuburan. Mungkin belum banyak orang yang tertarik untuk menghiasi taman atau sudut rumahnya dengan tanaman puring gara2 image tersebut. Maka dengan adanya Komunitas Puring ini diharapkan mampu mengangkat image atau derajatnya menjadi lebih terhormat lagi dan masyarakat pun tidak ragu tuk mensejajarkan puring dengan aglaonema atau jenis tanaman koleksi lainnya. Amiieennn…

Bpk. Briliantoro concern mengenai identifikasi puring secara genetik, karena yang beredar saat ini sudah tidak jelas asal – usulnya. Belum ada informasi yang baku dan tepercaya mengenai silangan2 puring. Namun sepertinya hal itu sulit sekali tuk dilakukan, mengingat jenis yang ada ini mungkin sudah hasil silangan beberapa generasi indukan. Sulit sekali dicari puring yang benar2 species (asli) dari sekian banyak jenis, kecuali mungkin orang2 LIPI yang berkompeten mengurusi hal ini.

Hal yang paling mungkin dilakukan adalah identifikasi berdasarkan bentuk fisiknya (bentuk daun, warna, motif, dll). Jenis puring berdaun lebar dikelompokkan dengan jenis daun lebar, dan selanjutnya.

Penamaan puring pun belum ada standarisasinya. Dari satu jenis puring yang sama dapat ditemui nama yang berbeda2. Hal ini tentu saja membuat bingung. Semoga dengan adanya Komunitas Puring ini ada usaha2 untuk perbaikan yang lebih baik. Mungkin bisa saja diadakan pertemuan Puringers seluruh Indonesia untuk membahas standarisasi penamaan puring sehingga terbentuk nama yang baku.

Selama ini pelaku bisnis tanaman di Indonesia tergantung pada Thailand, India dan lain2 untuk pemenuhan terhadap tanaman puring. Alangkah lebih baik jika kita pun memperhatikan puring2 jenis local yang banyak sekali beredar. Jenis2 puring Indonesia pun tidak kalah menarik. Sudah saatnya kita melepas ketergantungan pada Thailand dan mulailah untuk mencari pangsa pasar di luar negeri. Sebenarnya tidak ada salahnya bila kita mengimport dari luar negeri, namun apabila hal itu menjadi kecanduan tentu tidak ada manfaatnya bagi pertanian kita.

Ada teman, Ibu Siti dari Sukabumi yang memang berorientasi ekspor. Menurut beliau, permintaan akan puring di Korea dan China lumayan tinggi. Hanya saja karena saat ini masih musim salju dan adanya krisis global, ekspor tanaman belum dilakukan lagi. Sambil menunggu, beliau giat berproduksi puring. Yang diminati adalah puring yang sudah diokulasi beberapa jenis, jadi pada satu tanaman akan terbentuk berbagai macam jenis. Tentu saja jenis puring local karena puring2 koleksi harganya sangat tidak terjangkau. Ibu Siti sudah mengusahakan untuk bermitra dengan petani2 di Cipanas, namun hanya sedikit saja yang mampu memenuhi pesanan puring okulasi sesuai dengan standar bakunya. Sehingga saat ini beliau terpaksa memproduksi sendiri. Ada teman2 yang berminat jadi mitra ???!!!

Semoga apa yang sudah didiskusikan bukan wacana semata, perlu ada effort dan support dari semua pihak. Semangat ya guys..!!!

Ditulis oleh : Novillia – Komunitas Puring Indonesia

Tani Kota : Tanaman Puring


Bentuk Daunnya Indah dan Variatif

Bentuk dan warna daun Puring yang eksotis, membuat jenis tanaman yang satu ini memiliki prospek ekonomi di masa depan.

Saat ini, perhatian masyarakat pecinta dan kolektor tanaman hias masih tertuju pada Anthurium. Uang puluhan hingga ratusan juta rupiah bukan persoalan untuk mendapatkan jenis tanaman hias tersebut. Maka, tak heran pada calo dan makelar tanaman jenis ini pun tumbuh subur laksana rumput di musim hujan.

Tapi, ibarat selera akan pakaian, setiap saat selalu berganti. Demikian pula tanaman. Suatu saat tanaman ini menjadi favorit masyarakat, lalu di saat yang lain berganti dengan tanaman hias lainnya. Itu pula yang menjadi pegangan para pedagang tanaman hias dalam menawarkan dagangannya. Setelah Anthurium menawarkan jenis tanaman lainnya, yang katanya memiliki prospek bagus di masa depan.

Salah satu jenis yang ditawarkan adalah Puring, sejenis tananam untuk penghias taman. Amdanih, salah seorang petani tanaman hias di sentra tanaman hias Sawangan Depok, Jawa Barat, diam-diam kini menyiapkan puluhan jenis tanaman puring. Hal yang sama juga dilakukan oleh para petani lainnya di daerah tersebut.

Puring atau Kodium merupakan tanaman indemik Indonesia. Jenis tanaman ini paling banyak terdapat di bagian timur Indonesia. Semula, tanaman ini dianggap sebagai tanaman liar. Dengan mudah ditemukan di pemakaman, terutama pada kuburan-kuburan tua. Keindahan tanaman ini terletak pada daunnya yang eksotik. Baik warna mau pun bentuk daunnya cukup banyak variasinya.

Tanaman Puring termasuk famili araliase atau jenis tanaman berkayu (berkambium) dari perdu sampai pohon. Jenisnya ratusan. Di antara sekian banyak jenis itu, yang paling dikenal adalah Puring Kura, Lilin, Cabe, Bulu Ayam, Api, Jet dan Spagethi. Pemberian nama disesuaikan dengan bentuk daunnya. Puring Lilin misalnya, karena garis tengah daunnya mirip lilin. Atau Puring Bulu Ayam, daunnya menyerupai bulu ayam. Begitu pula Puring Kura, karena daunnya seperti Kura-kura.

Tapi tidak semua penamaan itu berdasarkan bentuk daunnya. Ada pula berdasarkan tempat terjadi persilangan atau asal dari tanaman Puring tersebut. Contohnya Puring Malang, karena jenis ini diperoleh dari hasil persilangan yang dilakukan di Malang, Jawa Timur. Demikian pula jenis Oskar, Kora, Ketapang, India, serta Kora Thailand.

Puring merupakan tanaman yang dimanfaatkan sebagai komponen pembuatan taman. Semula, kebutuhan tanaman ini mengikuti perkembangan usaha properti. “Bila perkembangan dunia properti bagus, maka permintaan akan puring juga bagus. Ada istilah, bila semen laku maka Puring juga laku, tidak mungkin ada orang bikin rumah tanpa sebatang pohonpun,” kata Amdanih menambahkan.

Membuat bentuk daun menjadi bervariasi bisa dilakukan dengan rekayasa. Antara lain dengan cara stek atau menyambung. Dengan cara ini, akan terbentuk variasi daun baru pada satu batang pohon. Sedangkan untuk memperbanyak bisa dilakukan dengan cara vegetatif atau pembibitan dengan biji, selain dengan okulasi dan cangkok.

Untuk mendapatkan biji puring, maka tanaman itu harus dipelihara dalam waktu yang relatif lama. Cara ini memungkinkan bila perbanyakan dilakukan dalam jumlah banyak. Sedangkan perbanyakan dengan cara cangkok, diperlukan bibit (hasil cangkokan) yang umurnya relatif lebih tua, dan bisa langsung ditanam di media sesungguhnya.

Lalu, untuk memperoleh varietas Puring baru, dapat pula dilakukan dengan cara kawin silang. Yaitu, mengawinkan putik jenis Puring tertentu dengan benang sari Puring lainnya. Cara ini memerlukan waktu yang lebih lama, dan juga membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Secara ekonomi, menurut Amdanih, nilai ekonomi sebatang pohon Puring tidak bisa setinggi Anthurium. Namun, ada beberapa jenis puring yang memiliki harga relatif tinggi, misalnya puring langka, bentuk dan warna daunnya sangat unik. Biasanya, yang termasuk jenis ini adalah puring koleksi dan diburu para kolektor, antara lain: Puring Kura, Kura Thailand, India, dan Puring Fantasi.

Belakangan permintaan akan Puring ini menunjukkan tren meningkat, seiring dengan makin bergairahnya pembangunan property. Karena permintaan dalam jumlah banyak, maka petani akan memperoleh keuntungan yang lumayan juga. “Untuk sebuah taman berukuran besar dibutuhkan ratusan pohon Puring. Jangankan tanam yang luas, taman untuk sebuah rumah kecil pun membutuhkan puluhan pohon,” kata Amdanih, mengenai prospek tanaman ini.

Tanaman Puring, menurut Amdanih, sempat mengalami booming pada 2006. Namun, karena ketiadaan stok yang tersedia di tingkat petani, maka para pemburu tanaman tak bisa berbuat apa-apa. Selain itu, tanaman puring tenggelam karena kalah famor dengan Anthurium yang saat itu mulai naik daun.

Pada 2007 ini pasaran tanaman Puring tampaknya mulai cerah kembali. “Pada tahun itu, saya sempat ditawari sebatang Puring Kura seharga lima Juta Rupiah,” kata Amdanih menambahkan.

Untuk mengantisipasi meingkatnya permitaan, saat ini ada sejumlah orang yang mulai mengumpulkan dan membiakkan tanaman Puring dalam jumlah besar. Ia yakin, satu saat nanti, tanaman ini akan menggantikan Anthurium dan menjadi salah satu tanaman yang paling diburu para pecintanya.

Mulai Cerah

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Perumpamaan ini layak disematkan pada Amdanih (40). Melihat perkembangan usaha Kiman, ayahnya, sebagai petani rumput taman yang terus meningkat, Amdanih pun ikut tergiur. Dan, sejak itu memantapkan tekad untuk terjun di bidang usaha tani, khususnya tanaman hias.

Taam, begitu Amdanih biasa dipanggil, kini telah memiliki tiga pangkalan tanaman hias, yang kesemuanya berada di Sawangan Depok. Usaha yang ditekuni sejak 1994, itu berkembang pesat. Hal ini membuktikan bahwa keputusannya keluar dari pabrik permen di Tangerang – tempat ia bekerja sebelumnya – tepat dan tidak sia-sia.

Kini, dari hasil usahanya ini, Taam kini bisa menghidupi keluarganya, dan bahkan mulai menginvestasikan hasil keringatnya dengan membeli tanah, sepeda motor, serta biya menyekolahkan anaknya.

Taam sebenarnya tidak memiliki pengetahuan khusus dibidang taman dan tanaman hias. Ketrampilan itu ia peroleh secara otodidak, karena hampir semua tetangganya menekuni usaha tersebut. Meski tidak selalu ramai dan mendapat order besar, menurut Taam, namun usahanya ini tidak pernah sepi dari pembeli. “Setiap hari ada saja yang mampir dan membeli berbagai jenis tanaman di sini,” ujar Taam.

Taam menceritakan, ia pernah memperoleh proyek besar, berupa pembuatan taman di Jalan Tol Ulujami, Jakarta. “Nilai proyek itu mencapai Rp. 200 juta, sehingga marginnya lumayan lah,” kata lelaki asli Depok ini sembari tersenyum.

Begitu pula ketika terjadi booming Anthurium, Taam pun ikut kecipratan. Itu Taam adalah seorang pengusaha di bidang tanaman hias yang selaku mengikuti perkembangan pasar. Hebat. (MBO)

foto : Mustafa Kemal
Dipublikasi pada Wednesday, 26 December 2007
Sumber : http://tanimerdeka.com/modules.php?name=News&file=article&sid=187

Varian Tanaman Puring


Kura – kura

Pemegang rekor harga puring. Pertulangan dan jari – jari daunnya sangat khas membentuk kotak – kotak timbul. Sangat mirip pola batok kura – kura. Ditunjang dengan kombinasi warna yang menarik. Munculnya warna pink membuatnya terlihat lebih manis. Daun membentuk tajuk rapat dan susun menyusun.

Red Apple

Puring impor asal Thailand ini juga istimewa. Sekilas penampilannya seperti varietas jengkol. Hanya saja ukuran si apel merah jauh lebih besar. Saat masih muda, daunnya berwarna kekuningan. Namun seiring bertambahnya usia, kelir tersebut berubah menjadi merah tua. Penampilannya semakin aduhai berkat sokongan urat daun yang tegas. Kulitnya pun terasa tebal.

Red Polkadot

Dikenal juga sebagai nirwana. Bentuk daunnya memanjang dengan ujung runcing. Kelir daunnya merah hati berhiaskan totol – totol merah cerah. Ketika muda daunya berwarna hijau. Setelah dewasa akan berangsur menjadi merah marun. Daunnya cukup tebal dan gagah. Makin terlihat mewah karena permukaan daunnya juga shiny.

Apel

Bentuk daunnya bulat. Warna daun kombiasi hijau dengan kuning, Saat muda warna daunnya kuning. Untuk membedakannya dengan varian red apple, terkadang dijuluki apel malang. Tergolong jenis puring yang diminati. Cocok untuk penghias meja.

Fantastic

Kelebihan utama varian ini adalah ukuran daunnya jumbo. Berbentuk lanset agak memanjang, daun cukup tebal. Kelir dasarnya hijau tua dengan hiasan corak merah dan orange di tengah daun, Setelah ditanam dalam pot akan terlihat seperti aglaonema.

Jengkol (Bells)

Nama jengkol diberikan karena tampangnya mirip. Bentuk daunnya bundar dengan warna dominan merah marun, Terkadang daunnya terlihat cekung seperti mangkuk. Varian disebut juga sebagai Bells. Pamornya sedikit turun karena kehadiran red apple yang mirip dengannya namun berukuran lebih besar.

Eksotica

Bentuk daun menjadi kelebihannya. Wujud daunnya menjari dengan bagian tengah memanjang. Sekilas menyerupai bentuk pesawat sehingga dijuluki concod. Berkelir dasar hijau dengan warna kuning, merah dan orange di pertulangan dari tepi daun. Terdapat juga bintik – bintik warna senada merata di permukaan daun.

Sumber : Majalah FLONA. Ed 51/III. Mei 2007. Hal 12 - 13

Dari hobi, Budidaya puring dimulai Mampu Ciptakan silangan sendiri


Meski awalnya hanya sebuah hobi tapi ternyata hasil yang didapatnya melebihi apa yang dilakukannya. Seperti yang dilakukan H.Asmanu. Berangkat dari hobi menanam puring, akhirnya dirinya sekarang memperoleh jenis puring hasil silangan sendiri yang corak daunnya tidak kalah menarik dari puring import

Diawali dari hobi mengumpulkan tanaman hias H. Asmanu kini memiliki kurang lebih 200 tanaman hias berbagai jenis. Kebunnya yang teletak di daerah trawas memang lumayan luas dan cocok untuk berkebun. Selain tanaman hias dikebunnya juga terdapat tanaman buah-buahan berbagai jenis. Namun dari pantauan Go Green saat berkunjung di kebunnya yang paling difokuskan dan mendapat perhatian khusus adalah puring. Jadi sebetulnya sebelum puring ramai di bicarakan di dunia tanaman hias seperti sekarang ini ia sudah mengawalinya terlebih dahulu.
Pada waktu itu sekitar tahun 2000an penghoi tanaman hias kan masih belum banyak mengenal puring terutama jenis-jenis import. Dari hobi tersebut maka timbulah niat untuk membudidayakan puring-puring asal Thailand tersebut. Saking banyaknya jenis yang dimilikinya terkadang sampai lupa namanya jelas Manu. Dalam budidayanya serta merawat kebunnya memang tidak dilakukan sendiri, namun ada beberapa perawat yang khusus menanganinya.
Dari hasil budidaya yang dilakukannya tersebut kini memang telah menghasilkan anakan yang cukup banyak. Meski sudah banyak berbagai jenis ia tak menjualnya karena masih sayang jelasnya. Sebetulnya banyak juga temen-temen yang mau membelinya namun kalau hanya sekedar pingin lebih baik saya tolak. Sayang kalau disini mendapatkan perawatan yang baik, terus sampai ditangan orang lain rusak itu yang aku nggak bisa terima meskipun sudah dibeli. Menyoal jenis puring apa yang menjadi andalan atau disukai Asmanu menjawab. “ Semuanya suka kalau memang penampilannya menarik,” jelas Asmanu. Dari beberapa jenis puring yang kini lagi trend memang sudah lama menghuni kebunnya diantaranya worten beauty, berbagai jenis Aple diantaranya Aple Thailand, Raja, Oscar dan masih banyak lagi.
Dari sekian banyak jenis puring dan tanaman hias lain memang memerlukan perawatan yang ekstra dan ini tidak dilakukan sendiri, namun dibantu Darsono serta beberapa pembantu lainya. Kalau hanya dua orang saja saya kira kok kualahan mengurus tanaman yang sedemikian banyak dengan area lahan yang cukup luas. Selain melakukan perbanyakan secara stek batang H. Asmanu di bantu Darsono juga melakukan persilangan puring. Dimana hasilnya sudah dapat dinikmati keindahannya meski masih belum sempurna.
Dari beberapa jenis puring yang berhasil disilangnya adalah puring Thailand dan puring Oscar. Koleksi puring yang demikian banyak tersebut memang ada beberapa yang terlihat unik diantaranya adalah puring lidah api , karakter daun yang dimilikinya memang kecil-kecil dengan panjang sekitar satu jengkal. Selain itu juga warna yang dimilikinya cukup beraneka ragam salah satu yang terlihat unik, sepintas kalau diperhatikan memang sama dengan puring kura-kura. Namun setelah di lihat secara seksama barulah diketahui perbedaannya. Menurut keterangan Darsono itu merupakan hasil mutasi dari puring kura-kura yang diberi nama Kurasi (kura-kura mutasi ).
Lahan kebunan yang terletak didaerah Trawas tersebut juga dilengkapi greenhouse untuk tempat penyilangan serta penyemaian. Pembibitan dari cangkok maupun sambung juga dilakukannya. Karena memang harus perlu tempat yang steril dari hama serangga. Menyoal perkembangan puring saat ini, menurut sepengetahuannya cukup lumayan bagus, dalam arti penghobi sudah mulai tertarik dan menikmati keindahan daun yang ditampilkan puring. Untuk saat ini Jawa timur khususnya Surabaya memang kurang ada greget menyoal puring demikian juga dengan komunitasnya sangat terbatas.
Namun dilihat dari segi transaksi di beberapa nursery yang khusus menyediakan puring mengakui ada peningkatan penjualan. Seiring dengan perkembangan puring saat ini memang mulai naik daun, apalagi ada jenis-jenis tertentu yang ada di kebunya masuk dalam daftar buruan para kolektor, apakah nantinya hasil dari budidaya tersebut akan di lego atau dijual di pasaran!. “Wah gimana ya mas tunggu aja nanti lihat perkembangan dulu,” jelasnya.
Dari pantauan Go Green yang berhasil menembus lahan tersebut memang cukup banyak bibitan puring dari berbagai jenis. Mulai dari Oscar, Raja , Worten Beauty dan masih banyak lagi bibitan hasil cangkok yang tersusun rapi di halaman samping kebun. Kalau ditaksir untuk memenuhi hobi ini mungkin sudah tidak terhitung lagi besarnya. “Namun bagaimana lagi namanya saja hobi dan keluarga mendukung, ya dijalani saja itung-itung sembari mengisi waktu luangnya sehabis bekerja,” cetus H. Asmanu yang juga pegemar otomotif ini. Asmanu tergabung pula pada IMI ( Ikatan Motor Indonseia ) wilayah Jatim.
Selain di kebun, di rumahnya juga terdapat beberapa jenis puring. Rumah di Darmo Rejo IV N0.7 Surabaya ini memang tak pernah sepi bila tuan rumah libur. Rekan-rekan sesama penggemar puring berkumpul saling tukar informasi menyoal perkembangan puring. Selain itu juga di sela waktu luangnya setiap hari masih menyempatkan diri untuk membuka website tanaman hias khususnya puring dari manca negara.
H.Asmanu juga menerangkan bila puring lokal sebetulnya memiliki kualitas warna yang bagus, namun memang harus dilakukan beberapa ujicoba dengan menyilangkan puring impor biar hasilnya lebih ngejos lagi. Hal senada juga diungkapkan Darsono dalam hal peyilangan memang membutuhkan kesabaran dan juga ketelitian. Selain itu juga harus bisa membedakan mana bunga jantan dan betinanya. Faktor usia indukan juga cukup mempengaruhi proses pembuahan. Untuk itu perlu dilakukan survei serta mengetahui karakter puring sebelum melakukan perkawinan silang.jelasnya. Kalau kita melakukan asal-asalan saja sayang indukannya, dan hanya buang-buang Waktu saja bila hasilnya kurang maksimal. Kecintaannya pada puring sama sekali tidak mengikuti trend.maksudnya, baik lagi booming atau lesu, karena hobi yang sudah ditekuni selama kurang lebih 8 tahun itu dikarenakan memang rasa senang dan ingin membudidayakan. “Syukurlah hobi ini dapat dinikmati sampai sekarang dan bahkan sudah membudidayakanya,” jelasnya.Doy

Dari : duniapot.com

Rame-rame Mengoleksi Puring



Puluhan pengunjung tampak memenuhi beberapa stand yang memajang tanaman puring di pameran Flona Jakarta 2008. Beberapa dari pengunjung itu tampak gigih menawar kepada penjual masing-masing stand.

Tanaman puring ini memang unik, daunnya beraneka warna dengan perpaduan warna yang serasi. Seperti dikatakan salah satu pengunjung stand Mona, puring memang mulai booming di Jakarta setelah tren anthurium mulai menurun.

"Saya memang koleksi tanaman unik seperti puring ini salah satunya. Yang bikin menarik, perpaduan warna daun, bentuk daun dan setiap puring punya keistimewaan masing-masing," kata warga Setia Budi, Jakarta tersebut.

Senada dengan Mona, Anton yang mengantar saudara menyaksikan pameran Flona di Lapangan Banteng, hari ini, mengaku tertarik saat pertama kali melihat aneka jenis tanaman puring yang berjajar di depan sebelah kiri stand Dinas Pertamanan DKI Jakarta tersebut.

"Tadinya cuman nganterin aja, nih malah beli puring Afrika yang kecil, soalnya warnanya unik, padahal hanya warna daun saja. Ada unik yang lain, daun saat muda dan setelah tua bisa berbeda," kata Anton.

Ia juga menuturkan harga tanaman puring tersebut termasuk terjangkau dan perawatannya juga relatif mudah. "Tadi saya tanya penjualnya, puring ini cukup diberi pupuk dan dirawat seperti disiram air secara teratur, sudah hidup sendiri," kata warga Jakarta Timur tersebut.

Sedangkan dikatakan petugas stand Taman Bunga El-Wardah Sulton, beberapa pengunjung memang sempat menanyakan jenis puring apel malang atau kuning telor yang dijualnya. "Puring jenis ini punya keserasian warna antara kuning dan hijau, harganya mencapai Rp 40.000 per pot, kalau yang sedang tapi bentuk daunnya hampir sempurna bisa mencapai harga Rp 500 ribu," kata Sulton asal Kediri, Jawa Timur.

Ia juga menambahkan tanaman puring ini di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah banyak yang membudidayakan. "Paling banyak memang di daerah Sleman, Yogyakarta, tetapi memang belum terlalu diburu para kolektor seperti anthurium atau gelombang cinta. Trennya baru mau naik sepertinya," kata Sulton.

Ia mendatangkan koleksi puring dari Kediri untuk dipamerkan di Flona Jakarta 2008 yang berlangsung hingga 26 Agustus nanti. Hampir sama dengan Sulton, Nando asal Yogyakarta juga membawa ratusan koleksi puring pada ajang pameran flora dan fauna yang menampilkan 519 stand ini.

Pemilik stand Camelia Garden tersebut juga mengakui keunikan puring itu terletak pada warna, jenis dan bentuk daunnya."Kami membawa satu koleksi langka puring jenis Red Dragon yang berdaun lebar dan sepanjang sekitar 30 cm. Untuk jenis ini kami tawarkan Rp 20 juta, daunnya kalau sudah tua berwarna merah tapi kalau masih muda berwarna hijau," kata Nando.

Koleksi puring yang paling banyak dicari, kata Nando, selain Red Dragon, ada jenis Banglor, Concord Brazil, Seribu Bintang."Jenis Oscar juga paling banyak diburu pengunjung, ukuran yang kecil harganya sekitar Rp 300 ribu, bentuk sedang mencapai Rp 3-4 juta," kata Nando yang mewarisi bisnis tanaman dari ayahnya.

Ia menjelaskan jenis lain yang paling laku Banglor, untuk ukuran kecil harganya sekitar Rp 700 ribu, bentuk sedang mencapai Rp 2-3 juta. Ia mengakui harga jenis puring itu memang variatif, seperti Concord Brazil yang paling laku terjual, ukuran kecilnya bisa mencapai Rp 1 juta, sedangkan yang tanggung mencapai Rp 2-4 juta.

"Tapi ada juga jenis puring yang paling langka yakni Vinola, jenis ini memang yang paling diburu para kolektor, harganya hingga Rp 30-40 juta," kata Nando. Ia menuturkan kolektor yang menyukasi jenis tanaman ii kebanyakan memiliki ketertarikan di bidang seni, seperti seniman atau pekerja seni.

"Nilai seninya itu terletak pada keunikan perpaduan warna pada daun dan bentuk daun yang beraneka ragam. Sebut saja, Concord Brazil ang berbentuk seperti pesawat, unik-unik deh pokoknya," jelasnya.

Kecenderungan tren tanaman sepertinya akan bergeser. Tanaman anthurium memang masih banyak digilai para kolektor, tapi bagi kolektor tanaman yang memiliki citarasa seni, dedaunan puring ini bisa menjadi alternatif. Harganya juga masih relatif terjangkau dibanding jenis tanaman koleksi lain tapi keindahan daun puring juga tak kalah bila dipajang maupun dipamerkan.

Dari : kompas.com

Perbanyakan Puring Secara Vegetatif


Joseph’s Coat begitu julukan puring bisa diperbanyak secara generatif dengan biji. Dengan pertimbangan efekivitas waktu, cara vegetatif lebih banyak diterapkan. Cangkok dianggap paling pas untuk perbayakan. Persentase keberhasilan cangkok lebih tinggi dibandingkan dengan cara lain. Cara ini pun relatif lebih cepat.

Kalau dicangkok, calon tanaman baru masih mendapat suplai hara dari tanaman induk, sehingga akarnya bisa cepat tumbuh. Jika disetek, calon tanaman tidak memperoleh pasokan hara, sehingga akar lama munculnya.

Batang Tua

Cara mencangkok tidak sulit. Cari cabang yang cukup umur yang ditandai dengan warna kulit batang coklat, banyak mengandung zat kayu, umumnya berdiamter 3 – 4 cm. Tekstur batang siudah keras. Tak terlalu banyak terdapat bekas tangkai daun. Umumnya cabang yang masih banyak memiliki bekas tangkai daun adalah batang berusia muda. Batang terpilih lantas disayat kulitnya secara melingkar. Lebar sayatan 4 – 5 cm. Kambium yang masih menempel lalu dikerik sampai bersih. Bila tidak dikerik dikhawatirkan kulit akan pulih kembali dan akar tidak tumbuh. Selesai dkerik, bekas sayatan dibiarkan sampai kering.

Bagian kulit yang akan tumbuh akar diolesi zat peangsang, semisal roothone F. Atau bisa diganti dengan bawang merah. Umbi tanaman bumbu dapur itu ditumbuk, lalu dioleskan di bagian yang akan tumbuh akarnya. Sayatan segera dibungkus dengan media tanam. Tidak perlu dicampur dengan pupuk sintetis, cukup kompos. Tanah liat atau sabut kelapa pun tak masalah.

Yang penting media cangkok harus selalu dalam keadaan basah. Ketika akar mulai tumbuh, air tidak boleh telat sebab akar akan kering dan gagal tumbuh . Sekitar tiga minggu usai dibungkus akar cangkokan sudah tumbuh kuat. Ditandai denan ujung akar membesar, panjang dan telah menembus plastik pembungkus media. Jumlah akar pun cukup banyak. Cangkokan siap dipotong dan ditanam Cangkokan yang sudah ditanam dalam polibag atau pot lalu ditaruh di tempat yang sejuk, lembab dan teduh. Jika daun sudah segar, bibit puring siap ditanam atau dijiual.

Sambung dan Tempel

Okulasi alias tempel mata tunas juga bisa jadi pilihan. Cara ini tergolong efektif dan cepat. Cocok diterapkan untuk memperbanyak puring langka dan sedang diminati. Semilsal puring kura – kura, Umumnya memakai batang bawah puring merah alias conceremen, sementara mata tempelnya adalah puring mahal. Mata empel dipilih yang sehat dan masih aktif., Ditandai dengan warna hijau kecoklatan dan nampak segar berair. Mata tunas yang mati biasanya berwarna hitam. Mata tunas diambil dengan menyayat, menggunakan pisau yang benar – benar bersih dan tajam. Setelah itu disiapkan tempat penempelan di batang tanaman puring yang lain.

Ukurannya harus benar - benar pas. Mata tunas lalu secepatnya dipasang. Lendir dan kambium jagan sampai merngering atau terpegang. Mata tunas yang sudah dipasang lalu diikat erat dengan tali rafia. Cara mengikatnya seperti orang menyusun genting. Yaitu dari bawah menuju ke atas, supaya air hujan tidak masuk ke dalam. Air hujan bisa mengakibatkan mata tempel membusuk.

Sekitar sebulan kemudian, biasanya mata tempel sudah melekat. Tajuk tanaman pokok bisa dipangkas agar mata tunas bisa segera tumbuh. Begitu juga sambung pucuk, tingkat keberhasilannya terbilang sangat tinggi. Batang bawah puring murah disambung dengan entres puring favorit. Biasanya menggunakan bentuk sambungan “V” lantas diikat plastik. Sama seperti okulasi, entres alias batang atas dipilih yang beum terlalu tua, berciri tak terlalu keras. Juga sedang aktif tumbuh.

Sumber : Majalah FLONA. Ed 51/III. Mei 2007. Hal 14 - 15

Puring Paling Top Serap Timbal


Logam berat timbal (Pb) ibarat malaikat pencabut nyawa yang mengintai di jalanan. Data World Health Organization (WHO) menyebut, pencemaran unsur berbahaya itu mewabah di hampir seluruh belahan dunia. Di Bangkok, tingginya kadar timbal di udara menyebabkan 400 kematian dan 200.000-500.000 kasus hipertensi setiap tahun. Efek lain, IQ anak-anak berusia 7 tahun lebih rendah 4 poin daripada angka normal.

Pencemaran udara di kota-kota besar di tanahair juga sangat mengkhawatirkan. Polusi udara di Jakarta menduduki peringkat ke-3 terburuk setelah Meksiko dan Bangkok. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pencemaran udara di Jakarta melebihi ambang batas yaitu 60. Normal di bawah 50.

Di kota besar lain seperti Surabaya sama saja. Para pekerja di jalanan seperti anak jalanan dan polisi lalu lintas menjadi korban. Hasil pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan Surabaya (BLKS) terhadap 85 orang yang mengais rezeki di tepi-tepi jalan menunjukkan dalam darahnya mengandung Pb.

Penyebab penyakit

Pencemaran udara di Yogyakarta juga mulai mendekati ambang batas. Oleh sebab itu, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X terus mewanti-wanti agar warga peduli dampak buruk akibat polusi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi DIY, proporsi jumlah pasien akibat polusi udara cukup tinggi. Jumlah pasien infeksi akut pernafasan atas mencapai 22%, penyakit saluran pernafasan atas lain 7,7%, dan asma 2,2%. Apalagi Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Cemaran timbal dikhawatirkan menurunkan tingkat kecerdasan para pelajar.

Kendaraan bermotor penyebab polusi udara tertinggi di kawasan perkotaan. Dalam kurun 2001-2007, jumlah kendaraan bermotor di Yogyakarta menunjukkan kenaikan signifi kan. Sayangnya kenaikan itu tidak diimbangi upaya penanggulangan polusi yang memadai.

Menghadirkan tanaman di kawasan perkotaan salah satu pilihan untuk meredakan polusi. Namun, langkah itu kerap diabaikan dalam pembangunan kota. Bahkan pepohonan di tepi jalan seringkali ditebang. Lahannya digunakan untuk membangun gedung-gedung perkantoran atau perniagaan.

Padahal, beberapa jenis tanaman terbukti mampu menyerap polutan berbahaya seperti timbal. Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan pada 2007, kehadiran beberapa jenis tanaman pada daerah-daerah padat lalulintas ternyata ampuh menyerap polutan berbahaya itu. Salah satunya puring yang tumbuh di tepi-tepi jalan di kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jalan Kaliurang.

Jalan Kaliurang tergolong daerah padat lalulintas. Jumlah kendaraan yang melewati jalan itu pada jam-jam sibuk (pukul 07.00-17.00 WIB) mencapai 785-872 kendaraan. Pantas bila kadar timbal di kawasan itu cukup tinggi yaitu 46,75 mikrogram/m3, mendekati ambang batas 60 mikrogram/m3.

Puring paling top

Kehadiran puring di sepanjang Jalan Kaliurang ternyata berperan mengurangi kadar timbal di udara. Setelah 10 jam terpapar gas buang kendaraan bermotor, kandungan timbal pada daun puring di kawasan itu diukur dengan atomic absorption spectroscopy. Kandungan timbal pada daun menunjukkan daya serap tanaman terhadap polutan beracun itu. Sehelai daun puring mampu menyerap 2,05 mg/l timbal.

Puring ternyata paling top menyerap timbal dibandingkan tanaman lain yang diteliti. Beringin Ficus benjamina misalnya, hanya mampu menyerap 1,025 mg/l. Padahal, tanaman itu tumbuh di kawasan Malioboro yang lebih padat lalulintasnya. Jumlah kendaraan yang melintas pada jam sibuk di jalan itu mencapai 1.220 buah. Kadar timbal di udara di sana melebihi ambang batas yaitu 68,24 mikrogram/m3. Begitu juga dengan tanjung Mimusops elengi yang banyak tumbuh di Kotabaru. Lalulintas pada jam sibuk di jalan utama sangat padat hingga 1.382 kendaraan. Pencemaran timbal di kawasan itu pun mendekati ambang batas, 46,97 mikrogram/m3. Sayangnya daya serap tanjung sangat rendah, hanya 0,505 mg/l.

Lansekap jalan

Kurangnya populasi tanaman penyerap polutan menyebabkan tingkat pencemaran udara di satu kawasan terus meningkat. Apalagi laju pertambahan kendaraan bermotor jauh lebih cepat dibandingkan pertambahan populasi tanaman di perkotaan. Dalam kurun 2005-2007, jumlah sepeda motor di Yogyakarta meningkat sebanyak 113.000 unit. Mobil penumpang meningkat 4.249 unit. Oleh sebab itu, penanaman tanaman penyerap polutan semestinya
menjadi pertimbangan khusus dalam kebijakan pembangunan kota.

Puring memiliki berbagai kelebihan bila dijadikan salah satu komponen lansekap jalan. Penampilan daunnya indah dan penuh warna. Oleh sebab itu, puring berperan ganda: penghias kota sekaligus penyerap polutan berbahaya. Puring dapat dikombinasikan dengan pepohonan penyerap timbal lain seperti angsana, cemara, atau mahoni. Puring diletakkan di deretan tengah. Ketinggian tanaman dipertahankan maksimal 1,5 m. Untuk deretan depan dipilih tanaman semak. Sedangkan posisi pepohonan di deretan paling belakang.

Karena tergolong tanaman perdu, puring dapat pula dijadikan elemen lansekap untuk median jalan yang lebarnya terbatas. Hanya saja dipilih jenis puring yang tidak membentuk tajuk terlalu lebar. Puring juga sangat baik ditanam di tepi tikungan atau persimpangan jalan. Biasanya di area tikungan dibiarkan tanpa tanaman agar tidak menghalangi pandangan pengendara ketika berbelok. Puring dapat ditanam di area terbuka itu dengan syarat dipangkas rutin agar tinggi tanaman tidak lebih dari 80 cm. Dengan begitu, tepi jalan menjadi semarak dan penuh warna. Timbal pengancam jiwa pun sirna. (Suparwoko, Ir MURP PhD, dosen Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Islam Indonesia)

Dari : Trubus-online.co.id

Bintang Saat Ini : Croton


Jumat, 27 Juni 2008. Di halaman parkir sebuah nurseri di Jalan Kaliurang Km 15, Yogyakarta, terparkir kendaraan bak terbuka. Di sebuah bangunan di sisi kiri areal itu terlihat 2 pria tengah membungkus tajuk puring menggunakan kertas koran. Puring setinggi 30 cm di pot berdiameter 15 cm itu lalu dikemas ke dalam keranjang. 'Ini untuk pengiriman ke pameran di Jakarta,' tutur salah seorang pegawai. Total jenderal ada 50 pot yang disiapkan.

Sabtu, 28 Juni 2008. Di ajang Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, kiriman itu sudah ditunggu pembeli. Maklum 250 pot yang dibawa lebih dulu ludes terjual pada hari pertama dan kedua pameran pada Kamis dan Jumat, 26-27 Juni 2008. Jenisnya antara lain concord brazil setinggi 15 cm seharga Rp1-juta, oscar (5 cm, Rp330.000), seribu bintang (15 cm, Rp 500.000), afrika (15 cm, Rp100.000), serta banglore (15 cm, Rp600.000 dan 30 cm, Rp4-juta).

Selama 10 hari pameran didapat omzet Rp60-juta dari penjualan 350 pot berbagai jenis puring. Pendapatan yang lumayan paling moncer dalam pameran yang dibuka oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono itu. Pantas bila Linda Irawati, si empunya nurseri yang pengusaha itu, sumringah. Maklum itu pameran perdana yang diikuti. Nurseri Camelia-nama nurserinya-pun baru mulai serius menerjuni bisnis puring sejak Februari 2008.

Yang juga menikmati manisnya perniagaan croton ialah Naam Sutikno. Setahun silam ayah 1 anak itu masih membuka bengkel bubut di halaman rumahnya di Kediri. Kini bengkel bubut itu bersalin menjadi deretan pot puring. Sejak Mei 2007, Naam memang memutuskan untuk menerjuni bisnis puring. Keputusan itu lantaran ia mendengar bila anggota famili Euphorbiaceae itu tengah jadi barang incaran di Yogyakarta.

Insting bisnisnya terusik. Mantan kontraktor tebu itu tahu persis sentra puring di wilayah timur: Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Yogyakarta bisa jadi pasar potensialnya. Benar saja. Kali pertama membawa 1 truk puring, semua langsung terjual. Setelah itu selama 5 bulan berturut-turut minimal 25 truk puring lokal asal sentra di timur dikirim ke Kota Gudeg. Setiap truk berisi 400 pot ukuran besar atau 3.000 pot ukuran kecil. Dari perniagaan itu, Naam menuai laba Rp400-juta. Kini volume penjualan rata-rata 500 pot berbagai ukuran dengan pendapatan Rp40-juta per bulan.

Baru tapi lama

Penelusuran Trubus menunjukkan banyak pemain baru yang menerjuni bisnis puring. Sebut saja Agus Choliq. Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Yogya-karta, itu sejak pertengahan 2006 menjajakan kerabat bunga delapan dewa itu. Omzetnya sekarang Rp50-juta-Rp60-juta per bulan dari penjualan 70-100 pot berbagai jenis puring.

Di Sawangan, Depok, Ferdian AS, SSi, mulai bermain croton sejak setahun silam. Pada Januari-Februari 2008 ia menjual 200 pot puring kura tinggi 30-50 cm senilai Rp150-juta, 200 apel kuning (tinggi 50-60 cm, Rp45-juta), dan 'bibit' (tinggi 20-25 cm, Rp9-juta). Total jenderal pendapatannya pada 2 bulan itu mencapai Rp204-juta.

Muka-muka lama pun tak ketinggalan ikut menekuni puring. Di Tangerang ada Fredy Wiyanto, Handhi, Edi Sebayang, Handry Chuhairy, dan Nur Ali. Semula Fredy lebih dikenal sebagai pemain euphorbia dan adenium. Handhi: adenium dan sansevieria, Edi: ayam serama, adenium, sansevieria, dan pachypodium. Handry: adenium, aglaonema, dan pachypodium. Sementara Nur Ali, pemain anggrek potong.

Di Sawangan, Depok, sebut saja Doddy Iskandar, Heri Syaefudin, Hari Harjanto, dan Chandra Gunawan. Di Bogor, Gunawan Wijaya, Jakarta (nurseri Tania Flora, nurseri Annajwa, Wahana Floris, nurseri Citra Ayu, nurseri Golden Star), Yogyakarta (Liling Watiasita, nurseri Lotus Garden, dan nurseri Watu Putih), Magelang (Pong Waluyo), serta Surabaya (nurseri Seger Ijo).

Kolektornya pun bermunculan. Gara-gara mencari tanaman yang cocok untuk lansekap taman rumah, Toto Edhi Santoso di Sleman kepincut croton sejak 1,5 tahun lalu. Anggota DPRD Kabupaten Sleman itu senang mengoleksi jenis berdaun lebar di halaman depan dan belakang rumah seluas

3.000 m2. 'Kesannya lebih kokoh,' katanya. Jenisnya antara lain vinola, pink meridian, red dragon, lipstick, new legend, banglore, seribu bintang, sahara, golden king, red spider, red star belgrade, phinisi, gotik, dan raja.

Sementara di kediamannya di Wonosobo, Santo Subagyo memiliki banglore, sweet love, concord merah, india, sahara, red spina, vista, timun, golden rain, katana, concord hijau, dan jenis-jenis yang masih belum bernama.

Antipolusi

Bukan tanpa alasan jika puring jadi pilihan. 'Puring penuh variasi bentuk dan warna,' kata Handry. Dibanding aglaonema-si ratu tanaman hias daun-ragam warna croton lebih banyak. Pada aglaonema warna kuning sulit didapat. Varian croton berwarna kuning banyak. Kombinasi warna pada aglaonema paling hingga 3 warna. Puring bisa lebih.

Keindahan Codiaeum variegatum itu bisa dinikmati sebagai tanaman pot, pun untuk lansekap. 'Di taman, puring jadi center poin,' kata Heri Syaefudin, pekebun dan perancang taman. Di Selomanen, Kediri, terdapat 15 pekebun yang memperbanyak puring untuk kebutuhan lansekap. Puring pun terbilang tanaman bandel dan mudah diperbanyak.

Keistimewaan lain, puring terbukti sebagai antipolutan ampuh. Hasil penelitian Ir Suparwoko, MURP, PhD, dari Jurusan Arsitektur FTSP, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, croton paling baik dalam menyerap timbal dibanding beringin dan tanjung. Puring mampu menyerap 2,05 mg/l timbal, beringin (1,025 mg/l), dan tanjung (0,505 mg/l) (baca: Puring Paling Top Serap Timbal, halaman 50).

'Ukuran partikel timbal sangat kecil, hanya 2 mikro-meter. Sedangkan lebar stomata 2-7 mikrometer,' tutur Ir Ari Wijayani Purwanto MP. Karena ukuran timbal lebih kecil daripada stomata secara otomatis mudah diserap tanaman. Hanya saja, menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) itu ada tanaman yang bisa mengolah timbal untuk kebutuhan metabolismenya, ada juga yang tidak. Bahkan sebagian tanaman keracunan bila menyerap polutan itu. Timbal masuk ke sel dan menumpuk di jaringan palisade parenkim yang banyak mengandung sitoplasma. Sitoplasma merupakan bagian sel yang fungsinya melarutkan hara serta membentuk dan menyimpan energi.

Timbal lalu menumpuk di klorofil. Ketika kerja klorofil terganggu, laju fotosintesis terhambat. Pada akhirnya pertumbuhan tanaman terganggu dan mati. Pada puring, timbal diubah menjadi enzim tertentu sehingga menjadi tidak beracun dan digunakan dalam proses metabolisme. Pantas bila puring cocok sebagai tanaman lansekap jalan. Di Yogyakarta, deretan croton menghiasi tepi Jalan Adisucipto.

Booming croton

Sejatinya bukan kali ini saja puring ramai jadi incaran. Pada 1995 croton sempat banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan tepi jalan. 'Waktu itu ada 50.000 tanaman dipakai sebagai border di jalan-jalan di kompleks perumahan elit di Tangerang,' ujar Heri Syaefudin, perancang taman. Heri memilih karotong karena sebagai elemen taman puring penuh warna. Sayang, krisis moneter yang melanda dunia properti membuat puring ikut tiarap.

Berikutnya, para pemain mencatat sebelum anthurium booming pada 2006-2007 croton sudah mulai menggeliat. Lagi-lagi pasar mandek karena stok barang terbatas. Jenis-jenis yang ketika itu disukai: kura, apel, eksotika, dan oscar.

Ketika itu Yogyakarta dan Jawa Tengah jadi lokomotifnya. Puring mendominasi di arena pameran. Perkara 2 daerah itu jadi motor tren croton diduga berkaitan dengan budaya dan mitos. 'Orang Jawa percaya puring bisa menolak bala,' kata Agus Choliq. Di Sleman malah berdiri Kelompok Tani Puring Karakan (Ketapuk) pada 15 April 2007. Sleman memang salah satu sentra puring Kota Pelajar.

Namun, para pemain sepakat sejak akhir Februari 2008 pamor puring paling mengkilap. Hampir semua pekebun dan pedagang mengalami lonjakan permintaan. Harga pun melesat pesat. Handry mencatat, pada Januari 2008 harga concord brazil setinggi 30 cm hanya Rp50.000. Pada pertengahan Juni 2008 menjadi Rp1,5-juta untuk ukuran sama.

Di ajang pameran puring pun mendominasi. Pada Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, minimal 10 stan memajang croton secara dominan. Pemandangan serupa diamati Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, waktu menelusuri pameran tanaman hias di Blitar.

Koleksi Jack

Indikasi lain, banyak importir yang membawa masuk puring. Tiga kali mendatangkan croton dari mancanegara, Fredy Wiyanto menangguk omzet Rp75-juta. Sumber impor dari Thailand, India, Sri Lanka, dan Filipina. Maklum negara-negara itu termasuk produsen puring dunia. Thailand punya ciri khas daun berpilin dan bulat, misal kura-cocok untuk potplant. Sementara puring Sri Lanka cenderung berdaun tipis, lebih pas untuk lansekap.

Penyilang tanahair pun bermunculan. Sebut saja Gandung Paryono (Yogyakarta), Pong Waluyo (Magelang), dan Lili Fayani (Malang). Potensi menyilang besar, apalagi puring sejatinya asli Indonesia. Hasil silangan Pong yang banyak dicari: sangkelat, nogososro, dan pulanggeni.

Bila semula pergerakan karotong dominan di Yogyakarta dan Jawa Tengah, kini menyebar ke Bogor, Depok, Jakarta, Tangerang-di barat, serta Blitar, Kediri, dan Surabaya-di timur. Di Depok, nurseri 'Nggon-ku, milik Heri Syaefudin, salah satu gudang puring. Di Tangerang ke arah Cilegon, ada sebuah desa yang khusus mengembangkan puring.

Hanya saja arus tren Yogyakarta dan Jawa Tengah memang lebih kencang. Di sana tren puring sudah melaju pada tahap mengoleksi jenis-jenis eksklusif. Yang sekarang tengah jadi buruan, puring-puring koleksi Jack E Craig. Ciri khasnya ukuran daun besar. Jack-pria asal Amerika Serikat-dikenal sebagai kolektor tanaman hias dan buah. Dari perjalanannya ke berbagai negara didapat aneka jenis tanaman hias dan buah eksotis yang dirawat di kebun di salah satu sudut Wonosobo. Di antaranya croton.

Di Jakarta, sebagian pemain mulai membidik jenis-jenis eksklusif seperti di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebut saja red paradise, new legend, monalisa, dan kipas dewa. Harga tanaman mencapai jutaan rupiah. Sementara puring buruan di Kediri dan Surabaya masih jenis-jenis 'lama' seperti kura, polkadot, apel, jengkol, dan batik.

Puring koleksi Jack seperti vinola, banglore, dan seribu bintang disebut sebagai collector item. Harganya tinggi. Vinola misalnya, asal cangkok setinggi 20 cm harganya Rp5-juta (lihat tabel). Sementara jenis-jenis yang banyak dicari, jumlah masih terbatas, dan harga relatif tinggi disebut komersial. Contohnya oscar, kura, raja, dan concord. Sementara jenis yang jumlahnya sudah relatif banyak dan murah disebut lokal. Misal jet, kirana, pancawarna, timun, zebra mas, dan lancur.

Banyak risiko

Peluang bisnis croton memang menggiurkan. Namun, kendalanya pun banyak. Edi Sebayang boleh dibilang kapok mengimpor puring. Dari 1.000 tanaman yang didatangkan pada Agustus 2007 setengahnya mati. Daun rontok karena tanaman stres setiba di tanahair. Padahal di antaranya ada croton-croton juara kontes di negeri Gajah Putih yang dibeli dengan merogoh kocek Rp15-juta-Rp20-juta. 'Sudah harganya mahal, penanganannya pun susah,' keluh pemilik beberapa perusahaan itu. Dari jumlah yang selamat, baru 100 tanaman yang berhasil dijual. Kejadian serupa dialami Handhi, Gunawan Wijaja, dan Chandra Gunawan.

Sekadar mengimpor pun bisa jadi bumerang. Kaji Yunus, pemilik Lotus Garden, di Kaliurang, Yogyakarta, urung mengimpor dari Thailand. Musababnya, 'Jenis-jenis yang permintaannya di sini banyak justru puring-puring koleksi Jack,' tuturnya. Banjir kura dan apel asal Thailand membuat stok berlimpah sehingga pasar cenderung mandek.

Salah perawatan bisa membuat penampilan puring dalam pot jelek. Batang nglancir dan daun menguncup. Padahal sebagai potplant, lebih disukai puring pendek dengan daun rebah sehingga kecantikan pola warnanya terlihat. Handry Chuhairy mengamati sekarang banyak ditemukan puring kura dengan daun cenderung tegak dan berbentuk cekung. Sejatinya kura berdaun cembung dan merebah. Keterbatasan batang bawah jadi kendala saat pekebun berpacu melipatgandakan produksi.

Nama dagang yang belum baku pun membuat pemain baru pusing tujuh keliling. Handry Chuhairy membeli 2 puring dengan nama berbeda. Saat tanaman tiba di nurseri ternyata ujudnya sama. Padahal, niat awal penamaan puring untuk mempermudah perniagaan. Batu sandungan lain, citra sebagai tanaman di pemakaman. Agus Choliq ingat, waktu pertama kali mulai menyetok puring untuk tanaman induk banyak yang menertawakan. 'Kuburannya pindah ke sini ya,' olok mereka yang menyepelekan. Harga kerabat kastuba itu pun murah. Pemain dan penggemarnya bisa dihitung dengan sebelah jari.

Sama seperti tanaman hias lain, pemain croton pun berisiko kemalingan. Dua bulan silam Doddy Iskandar menemukan pot-pot kosong yang semula berisi 5 banglore ukuran kecil, 4 banglore ukuran besar, 1 kura, dan 1 angora ukuran 1 m. Total kerugian mencapai Rp20-juta. Pantas kemudian ada selorohan, 'Dulu puring tanaman pagar, sekarang harus dipagari.' Sementara Naam pernah gigit jari lantaran penjualan senilai Rp30-juta tidak dibayar.

Panjang

Toh mereka yang sempat gagal tidak patah arang. Gunawan Wijaya memasukkan croton yang baru datang dari mancanegara ke dalam ruang kabut. Suhu, kelembapan, dan cahaya yang masuk diatur sehingga pas untuk puring pendatang itu. Hasilnya tingkat keberhasilan hidup mencapai 99,9% (baca: Croton Impor, Masuk ICU Dulu, halaman 42)

Para pemain yakin tren croton belum sampai di puncak. Asumsinya, saat ini mayoritas jual-beli masih di tingkat pedagang. Masih sedikit croton yang sampai ke tangan konsumen akhir. Kondisinya sama seperti ketika awal tren anthurium. 'Ketika tanaman sudah sampai ke tangan konsumen akhir, permintaan akan besar,' ucap salah seorang pemain. Harga pasti turun, tapi diimbangi dengan penambahan volume jual. 'Saya optimis puring tetap laku. Yang penting harga rasional,' ujar Nur Ali.

Dibanding anthurium, croton unggul karena bisa dipakai sebagai tanaman lansekap. Lagi pula untuk memperbanyaknya butuh waktu, sehingga tidak gampang banjir. Sebagai contoh, untuk hasil cangkokan baru siap dijual setelah umur 3-4 bulan.

Citra sebagai tanaman di pemakaman bakal hilang dengan menampilkan croton-croton bercorak indah. Buktinya seorang kolektor rela memboyong sepot oscar dan raja setinggi 2 m dengan harga masing-masing Rp20-juta dan Rp10-juta dari nurseri Camelia. Sifat multimanfaat: sebagai potplant dan lansekap, penghias sekaligus antipolutan, pun terus munculnya jenis baru bakal membuat napas croton makin panjang. (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Destika Cahyana, Imam Wiguna, Rosy Nur Apriyanti, dan Vina Vitriani)

Dari : Trubus-online.co.id