Selasa, 08 Juni 2010

Puring Diana 280 Juta



Anda pecinta tanaman hias? datanglah ke Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan Jakarta yang berlangsung 8 s/d 23 November 2008. Anda akan tercengang dibuatnya. Karena, selain ada 130 lebih stand peserta pameran yang menyuguhkan berbagai tanaman hias unggulan dan berbagai sarana produk dan aksesoris tanaman, TRUBUS sebagai pihak panitia juga secara ekslusif menyediakan stand khusus yang berisi hampir sekitar 100 tanaman senilai Rp. 2milyar dari berbagai jenis seperti Zamia, Kaktus, Philodendron, Sikas, Enchepalartos, Nephentes, Euphorbia , Pachypodium, Tillandsia, Ficus, Adenium, Palem, Alcantrea, Polypodium, Vriesea, Yucca, Beauecarnea, Anthurium, Puring, Sansevieria dan Aglaonema. Harga tanaman berkisar mulai Rp. 10jt seperti Adenium Obesum hingga Rp. 280jt untuk Puring Diana dan Rp. 300jt untuk Aglaonema Bidadari!

Dari : kebonkembang.com

Kamis, 03 Juni 2010

Tips Menyemai Biji Puring Ala Darsono


Dalam menyemai biji-biji puring sebaiknya pilih yang betul-betul tua. Hal itu dapat diketahui dengan pecahnya kulit buah. Kalau buah muda kita paksa semai ditakutkan akan busuk karena masih belum cukup tua untuk bisa pecah kulit. Sebelumnya kita persiapkan terlebih dahulu tempat dan media semai. Tempat bisa menggunakan pot plastik atau stereoform. Sedangkan media tanamnya memakai campuran cocopet dengan pakis dengan perbandingan 1 :2 . Setelah semuanya siap semai biji-biji puring terebut dengan benamkan sekitar 1 cm dari permukaan media tanam. Hal ini dilakukan agar begitu biji keluar cambah tidak sampai merusak pada ujung-ujung. Dalam arti lebih memudahkan keluarnya kecambah dari kulit buah.
Setelah semua biji disemai kemudian siram dengan air secukupnya sampai media tanam basah. Namun dalam proses penyemaian tersebut kelembaban arus tetap terjaga. Waktu yang dibutuhkan dari semai sampai keluar cambah kurang lebih 10 hari. Setelah pecah dari kulit buah atau keluar kecambah untuk mempercepat pertumbuhannya dibantu dengan memberikan B1. Setelah umur hasil semai mencapai 3 bulan baru bisa dipindah ke pot yang baru. Dan keunikan dari puring adalah hasil dari kawin silang tersebut akan menciptkan karakter yang berbeda-beda meski dalam satu tangkai buah. Nah sekarang tinggal anda sudah siap semaikan puring di rumah…? Semat menyemai…!! Doy

Dari : duniapot.com

Gudang Croton di Negeri Obama




Harry Harryanto, kolektor puring di Bogor, Jawa Barat, diam seribu bahasa. Matanya terbelalak menatap jutaan puring terhampar di greenhouse Costa Farms di Miami, Florida, Amerika Serikat. Tinggi tanaman dan corak daunnya seragam. Dari rumah kaca seluas 8 kali lapangan sepakbola itu diproduksi 1-juta pot per tahun. “Ini baru kebun puring komersial,” kata kolektor yang mengoleksi 30.000 puring di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, itu.

Sebelumnya Harry sempat kecewa. Kebun puring yang dijanjikan Mike Rimland, director Costa Farms, sejak 1,5 bulan silam tak kunjung diperlihatkan. Mike sengaja membuat ayah 2 anak itu penasaran. Ia hanya mengajak Harry ke lokasi aglaonema, hibiscus, dan poinsettia. Begitu melihat raut muka Harry tak puas, Mike pun baru mengantarnya ke lokasi puring.

Rasa kecewa Harry terbayar lunas ketika melihat hamparan puring setinggi 50 cm di greenhouse seluas 6,5 ha. “Jenis yang dikembangkan hanya 4, tapi produksinya luar biasa,” ujar presiden komisaris Group 73 itu. Sebut saja gold dust, banana, mammy, dan petra. Yang disebut pertama berdaun kecil dengan paduan warna hijau tua mengkilap dan bintik-bintik kuning terang. Bintik kuning pada tanaman muda sangat tergantung cahaya. Jika cahaya kurang, bintik kuning pudar sehingga warnanya tak menarik.

Banana lain lagi. Ukuran daun lebih besar ketimbang gold dust. Corak pun lebih berwarna. Tulang dan jari-jari daun kuning dengan bagian bawah daun tua ungu. Mammy juga unik. Daunnya panjang berbentuk spiral. Paduan hijau, jingga, merah, dan ungu membuat penampilan anggota famili Euphorbiaceae itu atraktif. Yang terakhir, petra, paling terkenal. Coraknya mirip banana, tapi daun lebih besar dan lebar.

Kompak

Costa memperoleh ke-4 puring itu dari sebuah nurseri di Amerika Tengah 25 tahun silam. “Mereka dipilih karena sosok tanaman kompak dan warnanya menarik,” kata Mike. Mereka juga mudah diperbanyak dan tetap prima saat dikirim ke pasar hingga 7 hari. Namun, bukan berarti varian lain tak mungkin dibudidayakan. “Buktinya ketika diperlihatkan foto puring koleksi saya, Mike tertarik dan berencana ke Indonesia,” ujar Harry.

Menurut Mike 4 jenis puring itu perawatannya mudah. “Cukup diberi pupuk lambat urai, tanaman tumbuh subur,” ujar pria yang juga pemilik Rimland’s Nursery itu. Itu karena pupuk lambat urai yang diberikan melepaskan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tanaman secara seragam. Wajar semua puring yang Harry lihat memiliki kualitas dan pertumbuhan sama.

Pada kunjungan itu Harry juga diperkenalkan dengan Kate Santos, head of research and development Costa Farms, yang bertanggung jawab terhadap penelitian dan pengembangan teknologi budidaya dan produk tanaman hias. Pada kesempatan itu Harry memperkenalkan teknologi pemupukan bersama gelombang suara, Sonic Bloom. Kate yang sangat terbuka dan tertarik akan hal baru pun langsung merespon untuk mengujicoba dan menerapkannya di Costa Farms. Atas undangan Harry, Kate berencana mengunjungi Indonesia tahun ini. Tujuannya, melihat varietas croton dan tanaman hias lain asal tanahair untuk dikembangkan di Amerika.

1 juta pot

Sejatinya puring merupakan satu dari 1.150 varian tanaman hias daun yang dihasilkan nurseri di barat daya Miami, Florida, itu. “Costa menghasilkan 1-juta pot puring per tahun dengan perbanyakan melalui setek. Setiap varian jumlahnya 250.000 pot/tahun,” kata Mike. Codiaeum variegatum itu lalu didistribusikan ke seluruh pasar di bagian Amerika Utara sebagai tanaman pekarangan di musim panas.

Wajar bila Harry kagum dengan produksi puring di salah satu nurseri di negeri Obama itu. Tanaman yang masih dilihat sebelah mata oleh hobiis di tanahair itu malah dikembangkan besar-besaran. “Kenapa di Indonesia tidak mengembangkan croton dengan baik? Padahal, kita punya varian yang bagus-bagus. Negara lain saja bisa berkembang dengan varian sedikit,” ujar distributor tunggal Sonic Bloom itu.

Menurut Mike, Costa salah satu nurseri tanaman hias terbesar di Amerika Serikat dengan jumlah pegawai 2.200 orang. Perusahaan yang didirikan Jose Costa pada 1961 itu memproduksi 120-juta tanaman hias daun dan bedding plant atau tanaman menghampar per tahun di lahan seluas 809,37 ha. Produksi jutaan pot leluasa dilakukan karena penggunaan lahan efektif. Sekitar 80% dari total lahan di Miami Florida digunakan untuk produksi.

49 tahun silam

Toh, kesuksesan itu tak datang begitu saja. Perjalanan Costa dimulai sejak 49 tahun silam ketika keluarga Costa berimigrasi ke Amerika Serikat. Mulanya Costa membuka kebun seluas beberapa hektar untuk tanaman hias daun, seperti anthurium, bromeliads, dan calathea. Selang 36 tahun kemudian, Costa melebarkan sayap ke komoditas lain. Tak hanya tanaman hias daun, tapi juga mulai mengusahakan bedding plant, seperti caladium, dahlia, daylili, geranium, gerbera, dan impatient. Kini produksi bedding plant meluas hingga ke Karolina Utara, Pennsylvania, dan nurseri di luar negeri seperti Republik Dominik dan Kosta Rika.

Keraksasaan Costa semakin bertambah setelah bergabung dengan kompetitornya Mike Costa Foliage 5 tahun silam. Perusahaan yang kini dikelola oleh generasi ke-3 itu mengirim produk tanaman hias daunnya ke seluruh wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Karibia. Di negara Paman Sam itu Costa memasarkan produknya ke Home Depot, Lowe’s, Wal-Mart dan sejumlah pedagang besar lainnya dalam rantai pemasaran. Sementara kebun di Republik Dominik dan Kosta Rika, khusus pembibitan untuk dikirim ke Amerika Serikat, lalu dibesarkan dan dijual.

Pengangkutan tanaman ke konsumen menggunakan truk berpendingin milik sendiri. Maklum, selain memproduksi tanaman, Costa juga mengelola transportasi yang beroperasi di Florida bagian selatan, Karolina Utara, Republik Dominik, serta Kosta Rika.

Menurut Mike penjualan terbesar terjadi pada awal Mei yang bertepatan dengan awal musim semi. Saat itu banyak penduduk negeri Paman Sam mulai bercocok tanam di pekarangan dan kebun. Pelayanan terbaik pun selalu diberikan oleh Costa kepada setiap pelanggannya. Salah satunya yang Harry rasakan ketika berkunjung ke greenhouse Costa Farms akhir 2009 lalu untuk melihat croton. (Rosy Nur Apriyanti)

Dari : Trubus-online.co.id

Puring Naik Pangkat


Inilah transaksi paling fenomenal di jagad tanaman hias 2008. Puring bangalore setinggi 1 m senilai Rp18-juta diboyong kolektor di Jakarta Selatan. Daun lebar, mulus, dan kompak menjadi daya tarik puring bercabang 12 itu. Di Sawangan, Depok, croton cobra merah berharga Rp6-juta menjadi koleksi H Ali Sudin. Puring Codiaeum variegatum memang tengah ‘naik kasta.’ Dari tanaman pagar ia bersalin rupa menjadi tanaman koleksi.

Puring memang disebut-sebut sebagai maskot baru tanaman hias di tahun tikus. ‘Sejak 2 bulan terakhir harganya terdongkrak naik 2-3 kali lipat,’ kata Handry Chuhairy, pemilik Hans Garden di Alam Sutera, Tangerang. Menurut Handry sebetulnya puring pernah menjadi incaran hobiis setahun silam. Namun, ketika itu pesona puring tergilas anthurium yang memang tengah naik daun. Apalagi puring impor asal Thailand yang didatangkan secara besar-besaran banyak stres dan rusak.

Menurut H. Ali Sudin banyak keung-gulan puring yang tak ditemui pada tanaman hias daun lain. ‘Variasi warna beragam, dalam1 tanaman bisa terdapat 4-5 warna,’ kata pegawai di sebuah kantor pemerintahan di DKI Jakarta itu. Sebut saja oscar yang berwarna hijau, kuning, merah, merah muda, dan merah kehitaman. Beragam warna pada 1 tanaman itu bahkan sulit ditemui pada aglaonema, tanaman hias daun yang dikenal kaya warna. Bentuk daun puring juga beragam mulai dari bulat hingga bentuk trisula dan keriting.

Beragam corak, warna, dan bentuk pu-ring itulah yang menjadi daya tarik kolektor. Apalagi belakangan croton-sebutan puring di mancanegara-banyak didatangkan dari India dan Thailand. ‘Itu memperkaya jenis yang beredar,’ kata Ferdian AS SSi, pemilik Suhika Flora Indonesia di Sawangan, Depok. Dari India croton bangalore menjadi maskot. Daun besar-selebar telapak tangan orang dewasa-dan bersosok kompak. Di Jakarta Selatan, sepot bangalore berdaun 10 dibandrol Rp4-juta alias Rp400.000 per daun. Pendatang dari India yang tak kalah cantik ialah leopard dan red spider. Dari Thailand, narapirom dan bangkruei (baca: Daun Berpilin Bernama Croton, Trubus Juli 2007, hal 44-45).

India

Hingga saat ini tak ada yang tahu pasti dari mana croton berasal. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia II menyebut puring berasal dari Maluku. Namun, ia juga menyebut puring banyak ditemukan di Pulau Jawa dengan beragam nama. Di tanah Sunda disebut katomas, tomas, dan puring. Di Jawa, puring, dan di Madura, karoton atau karotong. Anggota keluarga Euphorbiaceae itu juga ditemukan di Kalimantan (uhung dan dolok), Sulawesi (dendiki dan balenga semangga), dan Papua (abam atau kama).

Di wilayah nusantara itu puring tak hanya dikenal sebagai tanaman pagar dan pekuburan. Pucuk daun dipakai sebagai lalapan dan obat tradisional. Pada 1660 Georgius Everhardus Rumphius, botanis asal Jerman melaporkan daun puring dapat dimakan sebagai sayur. Daun muda berasa agak kemanis-manisan. K Heyne menyebutkan orang melayu menggunakan gerusan akar puring untuk mengobati penyakit kelamin seperti rajasinga atau sipilis. Sementara akar dan kulit batang dipakai sebagai zat penyamak kulit.

Dari sejumlah literatur terbaru ditemukan gudang puring tak hanya di Indonesia. Tercatat 2 wilayah lain yang dikenal sebagai gudang keragaman puring: Asia Selatan dan Kepulauan Pasifik bagian timur. Artinya, India-yang termasuk Asia

Selatan-memang habitat asli croton. Menu-rut Ir Slamet Budiarto, dari PT Godong Ijo Asri, Depok, tanah India kaya puring berdaun lebar. Sebut saja anaconda dan ben jonson. Jenis daun kecil asal India mirip dengan puring lokal seperti anting. Sementara dari Thailand didominasi puring berpilin seperti bang kruei dan berpunuk seperti kura.

Dilahirkan

Menurut Handry datangnya puring dari India dan Thailand ke Indonesia mendongkrak pamor puring lokal. ‘Dulu benar-benar tak dilirik. Sekarang dipotkan oleh pekebun dan dilahirkan dengan menyematkan nama. Mereka turut menjadi buruan kolektor,’ kata mantan atlit renang itu. Empat puring lokal tak bernama yang bersalin rupa menjadi mutiara, miss indonesia, miss universe, dan rembulan.

Di Pakulonan dan Lengkong, Serpong, Tangerang, banyak pekebun melakukan hal itu. Sebut saja Suharta dan Tirtayasa. Keduanya bergerilya mengumpulkan puring lokal dari pelosok, memperbanyak, lalu mengepotkannya. Di tangan mereka puring yang tadinya diabaikan menjadi tanaman koleksi bernilai jutaan rupiah.

Mutiara misalnya, sepot setinggi 30-40 cm itu dibandrol Rp2-juta. Sedangkan miss indonesia dan miss universe dipatok di atas Rp5-juta. ‘Kita berburu ke rumah-rumah penduduk, dan menemukan tipe ini yang tergolong langka,’ kata Tirtayasa. Fenomena itu mengingatkan pada aglaonema no name yang cantik tapi tak dilirik. Ia baru menjadi kebanggaan kolektor setelah disematkan nama

PURING APEL YANG LOKAL DAN IMPORT SAMA CANTIKNYA



October 12, 2009

Dengan segala keunikannya, tanaman Puring kini sudah mulai merangkak kembali dan pantas dijadikan idola. Tak terkecuali Puring Apel, bentuk daun yang menyerupai buah apel ini memiliki bentuk eksotis dipadu dengan variasi warna yang serasi hingga mampu menyihir penggemarnya. Ada 2 Puring Apel yang saat ini tersedia di pasaran tanaman hias, yaitu lokal dan Thailand. Meski namanya sama, tapi tampilannya berbeda.

“Sebenarnya, puring Apel lokal tidak kalah dengan ke-eksotikan puring apel Thailand. Pada prinsipnya puring Apel dari Thailand memiliki kemenangan pertama pada kata “Import”,” ungkap Subur Prasetyo, 31, pedagang bunga dari Kota Blitar, Jawa Timur. Dan sudah menjadi sebuah tradisi, segala sesuatu yang import akan dikatakan lebih bagus. Kenyataannya sebagian besar memang begitu, termasuk juga yang menyangkut tanaman.
Lebih lanjut pria tambun ini menjelaskan bahwa pada sisi warna kedua Puring ini memiliki perbedaan. Puring Apel lokal warnanya cerah, sedangkan Puring Apel Thailand warnanya mengkilat. Bila terkena sinar matahari, maka warna dari puring Thailand ini akan muncul lebih sempurna.
Selain pada warna, daun dari masing-masing varian beda Negara ini juga memiliki perbedaan. Puring Apel Thailand memiliki jenis daun yang tebal, sedangkan puring apel lokal daunnya lebih tipis. Sekilas memang nampak sama, tapi ketika diraba akan terasa perbedaannya.
Dengan perbedaan ketebalan yang mendasar itu, daun pada puring juga memiliki karakteristik yang berbeda pula. Puring Apel lokal daunnya kasar. Sedangkan puring apel Thailand bila diraba daunnya seperti plastik, halus dan agak licin. “Makanya warna Puring ini nampak mengkilap,” ungkapnya.
Mengenai harga, jelas memiliki perbedaan. “Perbandingan yang mencolok apabila kita berbicara soal harga. Karena puring import juga membutuhkan biaya pada sisi transportasi sedangkan lokal begitu mudahnya di dapat. Untuk perbandingan harga yang ada 1:10,” jelasnya.
Bila di pasaran lokal, Puring Apel lokal seharga Rp 15.000 – Rp 20.000, sementara Puring Apel Thailand minimal seharga Rp 100 ribu. Dari perbedaan yang ada tersebut, juga mempengaruhi penjualan. Terutama pada varian warna. “Untuk kedua jenis Puring itu, varian warna yang sering di buru kolektor adalah kolaborasi warna merah,” ungkapnya.
Sedangkan puring apel lokal selain kolaborasi warna merah, di pasaran yang menunjukkan geliatnya adalah Puring Apel warna kuning telur. Kecenderungan tren tanaman Puring Apel baik lokal maupun import masih banyak digilai para kolektor. Tapi bagi kolektor tanaman yang memiliki citarasa seni, dedaunan puring ini bisa menjadi alternatif. Harganya juga masih relatif terjangkau dibanding jenis tanaman koleksi lain tapi keindahan daun puring juga tak kalah bila dipajang maupun dipamerkan. ton

Dari : duniapot.com

Puring Roro Wilis Jadi Primadona


Kontes Puring kali pertama yang digelar Plaza Araya mendapat tanggapan baik khususnya dari kalangan kolektor Malang. Terbukti, tanaman Puring yang dibawa sebagian bahkan belum pernah diperlihatkan pada publik. Deretan Puring ini dipamerkan di atas panggung di halaman depan Plaza Araya. Selama penjurian kemarin, pengunjung plaza selalu berhenti untuk sekadar mengamati jenis Puring yang susunan daunnya tampak proporsional.

Penyelenggara Kontes Puring, Nanang Mukholis Anwar mengatakan, sebelumnya juga digelar kontes serupa di Tumpang. Namun peserta kontes di Plaza Araya, bukanlah orang yang sama dengan kontes serupa tersebut. “Banyak peserta baru yang memang kolektor. Sebelumnya mereka bahkan tidak keluar untuk melakukan pameran,” kata Nanang yang ditemui Malang Post disela penjurian.

Total peserta, lanjutnya, memang tidak sebanyak yang diprediksikan sebelumnya. Menurutnya, banyak peserta yang menarik diri dari kontes sehingga menyisakan 25 peserta. “Namun dari jumlah ini, 80 persen mengikutikan Puring jenis impor yang cukup langka. Jadi bukan sekadar Puring yang kerap menghias kuburan dan Puring ini juga tidak mudah ditemukan di pasaran,” katanya.

Nama Puringnya yang mengikuti kontes kecantikan tanaman tersebut cukup unik. Di antaranya Green Apple, Santa Helena, Oscar Ruby, Oscar Madu, Banglor, Tanduk, Sahara, Sakura, Lipstik dan masih banyak lagi. Meski Puring berkualitas kebanyakan merupakan Puring jenis impor, namun bukan berarti Puring lokal kalah pamor. Misalnya saja Puring Roro Wilis yang juga menjadi primadona di kalangan penggemar Puring karena kelangkaannya.

GM Plaza Araya, Priali M Basa yang juga menjadi juri dalam Kontes Puring tersebut mengatakan, harga Puring yang dipamerkan tidak menjadi pertimbangan utama. Pasalnya, kegiatan hobi seperti ini tidak memiliki batasan harga. “Namanya juga hobi, berapapun akan dibeli. Puring Lidah Api terakhir dijual dengan harga Rp 15 juta dan tetap ada pembelinya,” terang dia.

Demam Puring yang sudah berlangsung delapan bulan tersebut hingga kini masih diminati pecinta tanaman. Pasalnya, Puring merupakan tanaman yang akrab dengan keseharian karena biasa ditemukan di taman, dan juga pernah populer sebagai tanaman kuburan. Hanya saja, untuk jenis yang berharga tinggi tentunya merupakan Puring yang langka.

Nanang sendiri memprediksi, booming Puring akan cukup lama bertahan. Pasalnya, berbeda dengan Anthurium, perbanyakan tanaman Puring terbilang lebih sulit meski perawatannya paling mudah di antara tanaman hias lainnya. Dibiarkan pun, tanaman ini tetap tumbuh dengan kondisi luar ruangan. “Justru jika terlalu dimanja, tanaman ini akan mati,” pungkasnya. (fio/lim) (Fiona Mediony/malangpost)

Dari : malangraya.web.id

Keindahan Walet Merah Kristata


May 10, 2009

Dunia tanaman hias memang aneh, dimana bila memiliki kelainan justru meningkatkan nilai jualnya. Kristata merupakan salah satu kelainan yang dimiliki oleh tanaman, hampir semua jenis tanaman hias dari ribuan jumlahnya kemungkinan salah satunya memiliki kelainan baik daunnya atau yang sering disebut variegata ataupun kelainan bentuk yang ngetrend disebut kristata.
Bagi kolektor tanaman hias, variegata ataupun kristata selalu menjadi bahan buruan, tak peduli dimanapun tempatnya, bila hati sudah berhasrat kemanapun pasti dikejar juga. Karena jumlahnya tidak banyak secara otomatis harga jualnya cukup mahal. Betapa beruntungnya Anda jika memiliki tanaman hias berkarakter unik (kristata,red).
Puring kristata, rasanya masih asing terdengar di telinga, bahkan baru kali ini Go Green menemuinya. Inilah sebuah bukti bahwasannya tanaman kristata dimiliki oleh hampir semua jenis tanaman hias. Tapi jangan bilang jumlahnya banyak, pasalnya dari seribu tanaman, mungkin hanya satu yang memiliki karakter tersebut.
Dari keunikan dan minimnya jumlah, pada akhirnya memposisikan kristata menjadi tanaman eksklusif. Bila sudah demikian tak ada bedanya mau puring lokal ataupun import, harganya sama tingginya. Walet merah kristata milik Amin Thohari, meski termasuk puring lokal, namun harganya dapat terangkat berkat kelainannya.
Walet merah kristata tanpa sengaja didapatkan oleh Thohari beberapa bulan yang lalu. Saat ini puring kristata tersebut menjadi kebanggaannya. Sebagai pelaku bisnis tanaman hias, tak jarang ia mengikuti bursa. Sebagai salah satu andalannya walet merah kristata selalu dibawa saat mengikuti bursa tanaman hias.
Awalnya tak kelihatan puring tersebut memiliki kelainan, karena kristata pada batangnya tertutup oleh rimbun daun puring. Tapi setelah didekati dan diperhatikan ujung batang membentuk sebuah kipas yang merupakan ciri tanaman kristata. Meski tak bisa dibilang spektakuler, tapi tetap saja puring tersebut memiliki daya magnet luar biasa.
Usia Walet merah kristata termasuk masih muda, hal ini dapat dilihat dari besar batang bawah tanaman. Diameter batang bawah tak lebih dari 5 cm, tinggi tanaman kurang lebih hanya sekitar 80-90 cm. Untuk mengetahui bahwa puring tersebut kristata, anda harus memperhatikan dari dekat, seperti dikatakan diatas, bila dilihat dari jauh kristata tak tampak akibat rimbunnya daun puring.
Sebenarnya membelahnya batang tanaman hampir dimulai dari pangkalnya, namun terlihat membuka pada bagian atas batang. Batang tanaman membelah menjadi dua dan pada batang membelah tersebut ditumbuhi batang baru yang membentuk seperti kipas dengan kulit batang warna hijau.
Dinamakan walet merah karena daun puring tersebut lebih didominasi oleh warna merah darah, semakin serasi karena berkombinasi dengan warna hitam, hijau dan kuning. Struktur daun puring kecil dan memanjang, mirip sebuah pita rambut. Meski termasuk puring lokal, keindahannya cukup memuaskan mata, apalagi didukung dengan kelainan yang dimilikinya. Makin menambah kesempurnaan puring lokal tersebut.her

Dari : duniapot.com